“Kita kenalah berlapang dada. Tidak semua orang fikir macam kita. Janganlah rigid sangat!” kata seorang lelaki.
“Apabila dia cakap macam itu, tidak semestinya dia bermaksud tidak baik. Mungkin cara dia salah. Tapi niat dia baik!” ulas seorang perempuan.
“Tuhan ciptakan manusia berbeza-beza. Takkanlah semua kena sama. Relaks la bro!” tegas seorang yang lain pula.
Kata-kata seperti ini sering kita dengar. Malah sering juga diajukan kepada kita sendiri. Semasa kita nampak sesuatu itu jelas kesalahannya dan memerlukan pembetulan, tiba-tiba pembetulan kita dibidas semula, bukan dengan pembetulan berbentuk hujah berbalas hujah, tetapi mengguna pakai hujah universal iaitu, manusia diciptakan Tuhan berbeza-beza.
Semakin lama, semakin melarat.
Semua benda tidak muktamad.
Semua benda ada sisi lain.
Mungkin ada kebenarannya. Tetapi kesan besarnya ialah seperti langsung tiada apa yang muktamad dalam kehidupan ini. Hingga tidak tahu apa yang hendak dipegang sebagai ‘pegangan’ dalam hidup ini. Hidup tanpa panduan, semuanya betul belaka.
Relatif.
Subjektif.
Hujahnya seperti ada. Mungkin sahaja pantas disandarkan kepada ayat utama pada membicarakan perbezaan, keunikan dan keistimewaan manusia:
“Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).” [Al-Hujuraat 49: 13]
Tetapi kita perlu ingat.
Memang benar Allah menciptakan manusia itu berbeza-beza. Tujuannya juga sangat jelas, bukan untuk berbalah lagi bermasalah. Tetapi untuk kenal mengenal, mengambil tahu antara satu sama lain.
Tetapi sebelum Allah menjelaskan bahawa manusia itu diciptakan-Nya berbeza-beza, Allah terlebih dahulu mendatangkan 12 ayat di dalam surah yang sama, berbicara tentang apa yang betul dan apa yang salah dalam berkelakuan kita. Bahawa perbezaan bukan alasan untuk kita bebas berkelakuan apa sahaja atas nama perbezaan.
Ada yang betul.
Ada yang salah.
Yang betul itu betul.
Yang salah itu salah.
Semua itu digariskan dengan jelas. Kemudian barulah datang kenyataan berbentuk kesimpulan, bahawa manusia itu memang pelbagai. Lalu cara mengenal lelaki dan mengenal perempuan, mengenal satu kaum, dan satu kaum yang lain, berbeza-beza.
Demikian satu penegasan penting Surah al-Hujuraat.
Sifat ego (Ananiah) manusia akan selalunya lahir apabila seseorang individu itu merasakan dirinya sudah cukup sempurna, sudah cukup bijak dan cukup pandai dibandingkan dengan orang lain. Orang lain dilihat, terlalu kecil dan kerdil dibandingkan dengan apa yang dia miliki..Terlalu sibuk dengan diri sendiri, terlalu sibuk mencanangkan sudah melakukan sesuatu, sudah memiliki itu, memiliki ini, sudah pergi kesana kesini, sudah tahu segalanya.. Sudah menjalani apa yang orang lain belum jalani..

Friday, 7 July 2017
Kepribadian Dalam Pandangan Islam
A. Manusia Menurut Pandangan Islam
Allah SWT menciptakan struktur kepribadian manusia dalam bentuk potensial. Struktur itu tidak secara otomatis bernilai baik ataupun buruk, sebelum manusia berusaha mengaktualisasikan. Aktualisasi struktur sangat tergantung pada pilihan manusia, yang mana pilihannya itu akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat kelak. Upaya manusia untuk memilih dan mengaktualisasikan potensi itu memiliki dinamika proses, seiring dengan variabel-variabel yang mempengaruhi.
1. Manusia Adalah Makhluk Allah
Keberadaan manusia di dunia ini bukan kemauan sendiri, atau hasil proses evolusi alami, melainkan kehendak Yang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamin. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya mempunyai ketergantungan (dependent) kepada-Nya. Manusia tidak bisa lepas dari ketentuan-Nya. Sebagai makhluk, manusia berada dalam posisi lemah (terbatas), dalam arti tidak bisa menolak, menentang, atau merekayasa yang sudah dipastikan-Nya.
Dalam Al-Qur’an, Surat at-Tin: 4, Allah SWT berfirman: “sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat baik (sempurna)”.
Manusia adalah makhluk Allah, ciptaan Allah, dan secara kodrati merupakan makhluk beragama atau pengabdi Allah, seperti tercermin dalam sabda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut.
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (H.R. Muslim).
Sesuai dengan fitrahnya tersebut, manusia bertugas untuk mengabdi kepada Allah, seperti difirmankan Allah sebagai berikut.
(Q.S. Adz Dzariyat: 56). “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”
2. Manusia Adalah Khalifah di Muka Bumi
Hal ini berarti, manusia berdasarkan fitrahnya adalah makhluk sosial yang bersifat altruis (mementingkan/membantu orang lain). Menilik fitrahnya ini, manusia memiliki potensi atau kemampuan untuk bersosialisasi, berinteraksi sosial secara positif dan konstruktif dengan orang lain atau lingkungannya. Sebagai khalifah manusia mengemban amanah, atau tanggung jawab (responsibility) untuk berinisiatif dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang nyaman dan sejahtera; dan berupaya mencegah (preventif) terjadinya pelecehan nilai-nilai kemanusiaan dan perusakan lingkungan hidup (regional-global).
Dalam Surat Al-Baqarah: 30 difirmankan sebagai berikut: “Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat sesungguhnya aku menciptakan khalifah di muka bumi”.
Selanjutnya dalam Surat Hud: 61 difirmankan: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya)”
Manusia menciptakan kebudayaan dengan segala unsurnya (ilmu, teknologi, seni, dan sebagainya) agar mampu mengelola alam itu dengan sebaik-baiknya. Manusia menurut islam merupakan “khalifah di muka bumi”. Artinya manusia berfungsi sebagai pengelola alam dan memakmurkannya. Ini tersurat dan tersirat dari firman Allah sebagai berikut. (Q.S. Fatir: 39).
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi (Q.S. Fatir: 39).
Selanjutnya Allah berfirman: Dan Dia menundukkan untukmu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya, sebagai rahmat dari-Nya (Q.S. Al-Jasiyah: 3).
3. Manusia adalah Makhluk yang Mempunyai Fitrah Beragama
Melalui fitrahnya ini manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, dan sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai tolak ukur atau rujukan perilakunya.
Allah SWT berfirman: “.......bukanlah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ya kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami”. (Al-‘Araf: 172).
4. Manusia Berpotensi Baik (Takwa) dan Buruk (Fujur)
Manusia dalam hidupnya mempunyai dua kecenderungan atau arah perkembangan, yaitu takwa, sifat positif (beriman dan beramal shaleh) dan yang fujur, sifat negatif (musyrik, kufur, dan berbuat ma’syiat/jahat/buruk/dzalim). Dua kutub kekuatan ini, saling mempengaruhi. Kutub pertama mendorong individu untuk berperilaku yang normatif (merujuk nilai-nilai kebenaran), dan Kutub lain mendorong individu untuk berperilaku secar inpulsif (dorongan naluriah, instinktif, hawa nafsu). Dengan demikian, mmanusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan pada situasi konflik antara benar-salah atau baik-buruk.
Dalam Surat Asy-Syamsu: 8-10, difirmankan: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia sifat fujur dan takwa. Sungguh bahagia orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh celaka orang yang mengotori jiwanya”.
5. Manusia Memiliki Kebebasan Memilih (Free Choice)
Dalam surat Ar-Ra’du: 11, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang dimiliki (termasuk dirinya) suatu kaum, sehingga mereka sendiri mengubah (berinisiatif merekayasa) dirinya sendiri”.
Manusia diberi kebebasan untuk memilih kehidupannya, apakah mau beriman atau kufur kepada Allah. Apakah manusia akan memilih jalan hidup yang sesuai dengan ajaran agama atau memperturutkan hawa nafsunya. Dalam hal ini, manusia mempunyai kemampuan untuk berupaya menyelaraskan arah perkembangan dirinya dengan tuntutan normatif, nilai-nilai kebenaran, yang dapat memberikan kontribusi atau nilai manfaat bagi kesejahteraan umat manusia; juga memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan yang berseberangan dengan nilai-nilai agama, sehingga menimbulkan suasana kehidupan (personal-sosial) yang chaos, anarki, destruktif atau tidak nyaman.[1]
B. Definisi Kepribadian Islam
1. Makna Etimologi Kepribadian Islam
Personality berasal dari kata “person” yang secara bahasa memiliki arti:
(1) an individual human being (sosok manusia sebagai individu);
(2) a common individual (individu secara umum);
(3) a living human body (orang yang hidup);
(4) self (pribadi); personal existence or identity (eksistensi atau identitas pribadi); dan
(5) distinctive personal character (kekhususan karakter individu).
Sedangkan dalam bahasa Arab , pengertian etimologis kepribadian dapat dilihat dari pengertian dari term-term pandangannya. Seperti huwiyah, aniyah, dzattiyah, nafsiyyah, khuluqiyyah, dan syakhshiyyah sendiri. Masing-masing term ini meskipun memiliki kemiripan makna dengan kata syakhshiyyah, tetapi memiliki keunikan tersendiri.
[2] Oleh sebab itu dirasa perlu untuk menjelaskan masing-masing term tersebut dan kemudian memilih satu diantaranya untuk mewakili padanan term personality.[
3] Pertengahan abad XIX didakwahkan sebagai abad kelahiran psikologi kepribadian kontemporer didunia Barat. Saat inilah Psikologi Kepribadian (dalam arti, personologi) dinobatkan sebagai disiplin ilmu yang mandiri. Bersamaan abd ini pula, umat Islam telah abngun dari tidur panjangnya. Mereka mencoba berbenah diri untuk mengejar ketinggalan yang ada, khususnya dibidang sains.
Oleh keadaan yang masih transisi inilah maka umat Islam kurang berminat menggali khazanahnya sendiri. Mereka lebih muncul kemudian adalah diskursus-diskursus keilmuan Islam modern (baik filsafat maupun psikologi) lebih akrab menggunakan istilah syakhshiyyah (personality) dari pada khuluq (karakter). Pemilihan term ini bukan tidak beralasan bahkan suatu kesengajaan. Tujuan utamanya adalah agar diskursus ilmu keislaman lebih dikenal oleh dunia lain. Isi dan substansinya mencerminkan nilai-nilai universal Islam, sementara simbol dan “bungkus”nya mengadopsi dari Barat.
Perubahan semantik ini apakah tidak mengubah konsep aslinya, sedangkan kedua term itu jelas-jelas dibedakan dalam diskursus psikologi. Terlebih lagi jika term itu dihadapkan pada orang awam, apakah hal itu tidak semakin memasukkannya kedalam “liang biawak”.
Nabi Adam a.s.. pertama kali diajarkan ilmu oleh Allah SWT hanya dengan asma’ (nama-nama) (QS Al Baqarah[2]:30).
Bukankah hal ini menunjukkan pentingnya sebuah nama? Nama identik dengan terminologi, dan terminilogi ekuivalen dengan konsep, sedangkan konsep merupakan produk penting dari akal budi manusia. Melalui sebuah nama seringkali seseorang menemukan gambaran mengenai karakteristik sesuatu, minimal mengetahui apa dan siapa yang diberi nama itu. Nama menunjukkan identitas dan eksis-nya sesuatu.[4]
Terlepas dari segala kelemahan dan kelebihan masing-masing term tersebut, penulisan dalam konteks ini lebih cenderung menggunakan istilah syakhshiyyah (lengkapnya syakhshiyyah islamiyah) untuk padanan personality. Selain secara psikologis sudah popular, term ini mencerminkan makna kepribadian lahir dan batin. Ia tidak dipahami kecuali dengan makna kepribadian. Sedangkan khuluq memiliki ambiguitas makna, dan secara psikologis kurang popular didalam diskursus komtemporer. Pemilihan term ini hanya berkaitan dengan “penyebutan” bukan berkaitan dengan substansi konseptulnya.
2. Makna Terminologi Kepribadian Islam
Pengertian kepribadian dari sudut terminologi memiliki banyak definisi, karena hal itu berkaitan dengan konsep-konsep empiris dan filosofis tertentu yang merupakan bagian dari teori kepribadian. Konsep-konsep empiris dan filosofis disini meliputi dasar-dasar pemikiran mengenai wawasan, landasan, fungsi-fungsi, tujuan, ruang lingkup, dan metodologi yang dipakai rumus. Oleh sebab itu, tidak satupun definisi yang subtantif kepribadian dapat diberlakukan secara umum, sebab masing-masing definisi dilatar belakangi oleh konsep-konsep empiris dan filosofis yang berbeda-beda. Dengan begitu tidak berkelebihan jika Allport-- dalam studi kepustakaannya—menemukan sejumlah 50 definisi mengeinai kepribadian yang berbeda-beda yangdigolongkan kedalam sejumlah kategori.
Dengan meminjam definisi Allport, kepribadian secara sederhana dapat dirumuskan dengan definisi “what a man really is” (manusian sebagai mana adanya). Maksudnya, manusia sebagaimana sunnah atau kodratnya, yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Definisi yang luas dapat berpijak pada struktur kepribadian, yaitu integrasi sistem kalbu, akal dan hawa nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku. “definisi ini sebagai bandingan dengan definisi yang dikemukakan oleh para psikolog psikoanalitik seperti Sigmun Freud[5] dan Cherly Gustav Jung[6].
Dalam diri manusia terdapat elemen jasmani sebagai strukturbiologis kepribadiannya dan elemen ruhani sebagai struktur psikologis kepribadiannya. Sinergi kedua elemen ini disebut dengan nafsani yang merupakan struktur psikofisik kepribadain manusia. Struktur nafsani memiliki tiga daya, yaitu
(1) qolbu yang memiliki fitrah keTuhanan (ilahiyah) sebagai aspek supra kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya emosi (rasa);
(2) akal yang memiliki fitrah kemanusiaan (isaniah) sebagai aspek kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya kognisi (cipta); dan
(3) nafsu yang memiliki fitrah kehewanan (hayawaniyyah) sebagai aspek pra atau bawah-kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya konasi (karsa).
Jadi, dari sudut tingkatnya maka kepribadain itu merupakan integrasi dari aspek-aspek supra-kesadaran (KeTuhanan), kesadaran (kemanusiaan), dan pra—atau bawah kesadaran (kebinatangan). Sedang dari sudut fungsinya, kepribadain merupakan integrasi dari daya-daya emosi, kognisi, dan konasi, yang terwujud dalam tingkah laku luar (berjalan, berbicara, dsb) maupun tingkah laku dalam (pikiran, perasaan, dsb).
3. Makna Psikologi Kepribadian Islam
Perumusan makna psikologi kepribadian Islam memiliki arti bagaimana Islam mendefinisikan kepribadian dari sudut pandang psikologis. Frame kajiannya tetap pada studi Islam yang menelaah terhadap fenomena perilaku manusia dari sudut pandang psikologis, sebab satu-satunya wacana yang eksis hanyalah Islam, sementara psikologi disini hanya satu pendekatan studi dalam studi Islam.
Berdasarkan pengertian kepribadaian di atas maka yang dimaksud dengan Psikologi Kepribadain Islam adalah “studi Islam yang berhubungan dengan tingkah laku manusia berdasarkan pendekatan psikologis dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada sang Khalik-Nya agar dapat meningkatkan kualitas hisup di dunia dan akhirat.” Rumusan tersebut memiliki lima kompenen dasar yakni sebagai berikut.
Pertama, Studi Islam. Psikologi Kepribadian Islam merupakan salah satu kajian dalam studi keislaman, bukan bagian dari studi (atau cabang) psikologi. Sebagai disiplin ilmu keislaman, ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin keislaman yang lain, seperti teologi Islam, hukum Islam, ekonomi Islam, kebudayaan Islam, polotik Islam, dan sebaginya. Penggunaan term Islam disini memiliki arti corak, pola pikir, atau aliran dalam psikologikepribadian, yang memiliki eksistensi unik dibading dengan aliran psikologi kepribadian lain. Keunikannya baik dari aspek ontologi, epistimologi maupun aksiologinya. Studi Islam di sini juga memiliki arti bahwa bangunan kepribadain didasarkan atas Alquran, al-Sunnah, khazanah Islam sendiri, bukan dari bangunan kepribadain Barat.
Kedua, yang berhubungan dengan tingkah laku, manusia. Psikologi Kepribadain Islam mempelajari tingkah laku manusia. Dalam bentuk potensial, seluruh tingkah laku manusiatelah memilki takdir atau sunnatullah yang ditetapkan oleh Tuhan, meskipun takdir yang dimaksud memiliki banyak pilihan. Namun dalam bentuk aktual, manusia diberi kebebasan untuk mengekspresikannya, sehingga menimbulkan dinamika tingkah laku. Setiap tingkah laku memilki citra (image) dan keunikan tersendiri sesuai sesuai apa yang terdapat pada pelakunya. Tingkah laku disini bisa berupatingkah laku lahir maupun tingkah laku batin atau kedua-duanya. Tingkah laku lahir ada yang mencerminkan tingkah laku batinnya dan ada juga yang berbeda. Baik mencerminkan atau tidak semuanya disebut dengan tingkah laku.
Ketiga, berdasarkan pendekatan psikolohid. Studi tentang kepribadian dapat didekati dengan beberapa pendekatan, misalnya filsafat, psikologi, antropologi, dan sebagainya. Psikologi Kepribadain Islam merupakan studi kepribadain Islam yang dipandang dari sudut psikologi. Studi ini setidak-tidaknya menggambarkan apa dan bagaimana tingkah laku manusia menurut pandangan Islam yang ditimbulkan dari jiwanya.
Kempat, dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada Sang Khalik. Psikologi Kepribadain Islam mengkaji tingkah laku manusia dengan berpijak pada fungsi kehidupan manusia. Manusia adalah sebagai mandataris Sang Khalik untuk menjadai khalifah dimuka bumi. Dalam bertingkah laku, manusia selain diberi potensi fitrah, juga memiliki relasi sesamanya dan dikaruniai alam dan isinya untuk dikelola yang baik. Oleh karena kedudukan ini maka setiap realisasi tingkah laku manusia merupakan cerminan ibadah, baik berkaitang dengan Tuhan, diri sendiri, sesamanya, serta pada alam semesta.
Kelima, untuk meningkatkan kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Psikologi kepribadian Islam syarat akan nilai, yang dapat menghantarkan kebahagiaan hidup manusia. Kebahagian yang dimaksud tidak terbatas pada kebahagiaan duniawi yang sifatnya temporer dan semu, tetapi juga kebahgiaan ukhrowi yang sifatnya abadi dan hakiki. Pda aspek ini, Psikologi Kepribadain Islam bukan sekedar memotret dan mengidentifikasi tingkah laku (bicara apa adanya), melainkan juga mengungkap bagaimana seharusnya tingkah laku itu. Tentunya dalam hal ini tidak terlepas norma-norma baik-buruk yang telah ditetapka oleh Sang Khalik. Oleh karena tujuan ini maka studi Psikologi Kepribadain Islam diharapkan memiliki implikasi penting dalam kehidupan manusia..
Allah SWT menciptakan struktur kepribadian manusia dalam bentuk potensial. Struktur itu tidak secara otomatis bernilai baik ataupun buruk, sebelum manusia berusaha mengaktualisasikan. Aktualisasi struktur sangat tergantung pada pilihan manusia, yang mana pilihannya itu akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat kelak. Upaya manusia untuk memilih dan mengaktualisasikan potensi itu memiliki dinamika proses, seiring dengan variabel-variabel yang mempengaruhi.
1. Manusia Adalah Makhluk Allah
Keberadaan manusia di dunia ini bukan kemauan sendiri, atau hasil proses evolusi alami, melainkan kehendak Yang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamin. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya mempunyai ketergantungan (dependent) kepada-Nya. Manusia tidak bisa lepas dari ketentuan-Nya. Sebagai makhluk, manusia berada dalam posisi lemah (terbatas), dalam arti tidak bisa menolak, menentang, atau merekayasa yang sudah dipastikan-Nya.
Dalam Al-Qur’an, Surat at-Tin: 4, Allah SWT berfirman: “sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat baik (sempurna)”.
Manusia adalah makhluk Allah, ciptaan Allah, dan secara kodrati merupakan makhluk beragama atau pengabdi Allah, seperti tercermin dalam sabda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut.
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (H.R. Muslim).
Sesuai dengan fitrahnya tersebut, manusia bertugas untuk mengabdi kepada Allah, seperti difirmankan Allah sebagai berikut.
(Q.S. Adz Dzariyat: 56). “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”
2. Manusia Adalah Khalifah di Muka Bumi
Hal ini berarti, manusia berdasarkan fitrahnya adalah makhluk sosial yang bersifat altruis (mementingkan/membantu orang lain). Menilik fitrahnya ini, manusia memiliki potensi atau kemampuan untuk bersosialisasi, berinteraksi sosial secara positif dan konstruktif dengan orang lain atau lingkungannya. Sebagai khalifah manusia mengemban amanah, atau tanggung jawab (responsibility) untuk berinisiatif dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang nyaman dan sejahtera; dan berupaya mencegah (preventif) terjadinya pelecehan nilai-nilai kemanusiaan dan perusakan lingkungan hidup (regional-global).
Dalam Surat Al-Baqarah: 30 difirmankan sebagai berikut: “Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat sesungguhnya aku menciptakan khalifah di muka bumi”.
Selanjutnya dalam Surat Hud: 61 difirmankan: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya)”
Manusia menciptakan kebudayaan dengan segala unsurnya (ilmu, teknologi, seni, dan sebagainya) agar mampu mengelola alam itu dengan sebaik-baiknya. Manusia menurut islam merupakan “khalifah di muka bumi”. Artinya manusia berfungsi sebagai pengelola alam dan memakmurkannya. Ini tersurat dan tersirat dari firman Allah sebagai berikut. (Q.S. Fatir: 39).
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi (Q.S. Fatir: 39).
Selanjutnya Allah berfirman: Dan Dia menundukkan untukmu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya, sebagai rahmat dari-Nya (Q.S. Al-Jasiyah: 3).
3. Manusia adalah Makhluk yang Mempunyai Fitrah Beragama
Melalui fitrahnya ini manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, dan sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai tolak ukur atau rujukan perilakunya.
Allah SWT berfirman: “.......bukanlah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ya kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami”. (Al-‘Araf: 172).
4. Manusia Berpotensi Baik (Takwa) dan Buruk (Fujur)
Manusia dalam hidupnya mempunyai dua kecenderungan atau arah perkembangan, yaitu takwa, sifat positif (beriman dan beramal shaleh) dan yang fujur, sifat negatif (musyrik, kufur, dan berbuat ma’syiat/jahat/buruk/dzalim). Dua kutub kekuatan ini, saling mempengaruhi. Kutub pertama mendorong individu untuk berperilaku yang normatif (merujuk nilai-nilai kebenaran), dan Kutub lain mendorong individu untuk berperilaku secar inpulsif (dorongan naluriah, instinktif, hawa nafsu). Dengan demikian, mmanusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan pada situasi konflik antara benar-salah atau baik-buruk.
Dalam Surat Asy-Syamsu: 8-10, difirmankan: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia sifat fujur dan takwa. Sungguh bahagia orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh celaka orang yang mengotori jiwanya”.
5. Manusia Memiliki Kebebasan Memilih (Free Choice)
Dalam surat Ar-Ra’du: 11, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang dimiliki (termasuk dirinya) suatu kaum, sehingga mereka sendiri mengubah (berinisiatif merekayasa) dirinya sendiri”.
Manusia diberi kebebasan untuk memilih kehidupannya, apakah mau beriman atau kufur kepada Allah. Apakah manusia akan memilih jalan hidup yang sesuai dengan ajaran agama atau memperturutkan hawa nafsunya. Dalam hal ini, manusia mempunyai kemampuan untuk berupaya menyelaraskan arah perkembangan dirinya dengan tuntutan normatif, nilai-nilai kebenaran, yang dapat memberikan kontribusi atau nilai manfaat bagi kesejahteraan umat manusia; juga memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan yang berseberangan dengan nilai-nilai agama, sehingga menimbulkan suasana kehidupan (personal-sosial) yang chaos, anarki, destruktif atau tidak nyaman.[1]
B. Definisi Kepribadian Islam
1. Makna Etimologi Kepribadian Islam
Personality berasal dari kata “person” yang secara bahasa memiliki arti:
(1) an individual human being (sosok manusia sebagai individu);
(2) a common individual (individu secara umum);
(3) a living human body (orang yang hidup);
(4) self (pribadi); personal existence or identity (eksistensi atau identitas pribadi); dan
(5) distinctive personal character (kekhususan karakter individu).
Sedangkan dalam bahasa Arab , pengertian etimologis kepribadian dapat dilihat dari pengertian dari term-term pandangannya. Seperti huwiyah, aniyah, dzattiyah, nafsiyyah, khuluqiyyah, dan syakhshiyyah sendiri. Masing-masing term ini meskipun memiliki kemiripan makna dengan kata syakhshiyyah, tetapi memiliki keunikan tersendiri.
[2] Oleh sebab itu dirasa perlu untuk menjelaskan masing-masing term tersebut dan kemudian memilih satu diantaranya untuk mewakili padanan term personality.[
3] Pertengahan abad XIX didakwahkan sebagai abad kelahiran psikologi kepribadian kontemporer didunia Barat. Saat inilah Psikologi Kepribadian (dalam arti, personologi) dinobatkan sebagai disiplin ilmu yang mandiri. Bersamaan abd ini pula, umat Islam telah abngun dari tidur panjangnya. Mereka mencoba berbenah diri untuk mengejar ketinggalan yang ada, khususnya dibidang sains.
Oleh keadaan yang masih transisi inilah maka umat Islam kurang berminat menggali khazanahnya sendiri. Mereka lebih muncul kemudian adalah diskursus-diskursus keilmuan Islam modern (baik filsafat maupun psikologi) lebih akrab menggunakan istilah syakhshiyyah (personality) dari pada khuluq (karakter). Pemilihan term ini bukan tidak beralasan bahkan suatu kesengajaan. Tujuan utamanya adalah agar diskursus ilmu keislaman lebih dikenal oleh dunia lain. Isi dan substansinya mencerminkan nilai-nilai universal Islam, sementara simbol dan “bungkus”nya mengadopsi dari Barat.
Perubahan semantik ini apakah tidak mengubah konsep aslinya, sedangkan kedua term itu jelas-jelas dibedakan dalam diskursus psikologi. Terlebih lagi jika term itu dihadapkan pada orang awam, apakah hal itu tidak semakin memasukkannya kedalam “liang biawak”.
Nabi Adam a.s.. pertama kali diajarkan ilmu oleh Allah SWT hanya dengan asma’ (nama-nama) (QS Al Baqarah[2]:30).
Bukankah hal ini menunjukkan pentingnya sebuah nama? Nama identik dengan terminologi, dan terminilogi ekuivalen dengan konsep, sedangkan konsep merupakan produk penting dari akal budi manusia. Melalui sebuah nama seringkali seseorang menemukan gambaran mengenai karakteristik sesuatu, minimal mengetahui apa dan siapa yang diberi nama itu. Nama menunjukkan identitas dan eksis-nya sesuatu.[4]
Terlepas dari segala kelemahan dan kelebihan masing-masing term tersebut, penulisan dalam konteks ini lebih cenderung menggunakan istilah syakhshiyyah (lengkapnya syakhshiyyah islamiyah) untuk padanan personality. Selain secara psikologis sudah popular, term ini mencerminkan makna kepribadian lahir dan batin. Ia tidak dipahami kecuali dengan makna kepribadian. Sedangkan khuluq memiliki ambiguitas makna, dan secara psikologis kurang popular didalam diskursus komtemporer. Pemilihan term ini hanya berkaitan dengan “penyebutan” bukan berkaitan dengan substansi konseptulnya.
2. Makna Terminologi Kepribadian Islam
Pengertian kepribadian dari sudut terminologi memiliki banyak definisi, karena hal itu berkaitan dengan konsep-konsep empiris dan filosofis tertentu yang merupakan bagian dari teori kepribadian. Konsep-konsep empiris dan filosofis disini meliputi dasar-dasar pemikiran mengenai wawasan, landasan, fungsi-fungsi, tujuan, ruang lingkup, dan metodologi yang dipakai rumus. Oleh sebab itu, tidak satupun definisi yang subtantif kepribadian dapat diberlakukan secara umum, sebab masing-masing definisi dilatar belakangi oleh konsep-konsep empiris dan filosofis yang berbeda-beda. Dengan begitu tidak berkelebihan jika Allport-- dalam studi kepustakaannya—menemukan sejumlah 50 definisi mengeinai kepribadian yang berbeda-beda yangdigolongkan kedalam sejumlah kategori.
Dengan meminjam definisi Allport, kepribadian secara sederhana dapat dirumuskan dengan definisi “what a man really is” (manusian sebagai mana adanya). Maksudnya, manusia sebagaimana sunnah atau kodratnya, yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Definisi yang luas dapat berpijak pada struktur kepribadian, yaitu integrasi sistem kalbu, akal dan hawa nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku. “definisi ini sebagai bandingan dengan definisi yang dikemukakan oleh para psikolog psikoanalitik seperti Sigmun Freud[5] dan Cherly Gustav Jung[6].
Dalam diri manusia terdapat elemen jasmani sebagai strukturbiologis kepribadiannya dan elemen ruhani sebagai struktur psikologis kepribadiannya. Sinergi kedua elemen ini disebut dengan nafsani yang merupakan struktur psikofisik kepribadain manusia. Struktur nafsani memiliki tiga daya, yaitu
(1) qolbu yang memiliki fitrah keTuhanan (ilahiyah) sebagai aspek supra kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya emosi (rasa);
(2) akal yang memiliki fitrah kemanusiaan (isaniah) sebagai aspek kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya kognisi (cipta); dan
(3) nafsu yang memiliki fitrah kehewanan (hayawaniyyah) sebagai aspek pra atau bawah-kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya konasi (karsa).
Jadi, dari sudut tingkatnya maka kepribadain itu merupakan integrasi dari aspek-aspek supra-kesadaran (KeTuhanan), kesadaran (kemanusiaan), dan pra—atau bawah kesadaran (kebinatangan). Sedang dari sudut fungsinya, kepribadain merupakan integrasi dari daya-daya emosi, kognisi, dan konasi, yang terwujud dalam tingkah laku luar (berjalan, berbicara, dsb) maupun tingkah laku dalam (pikiran, perasaan, dsb).
3. Makna Psikologi Kepribadian Islam
Perumusan makna psikologi kepribadian Islam memiliki arti bagaimana Islam mendefinisikan kepribadian dari sudut pandang psikologis. Frame kajiannya tetap pada studi Islam yang menelaah terhadap fenomena perilaku manusia dari sudut pandang psikologis, sebab satu-satunya wacana yang eksis hanyalah Islam, sementara psikologi disini hanya satu pendekatan studi dalam studi Islam.
Berdasarkan pengertian kepribadaian di atas maka yang dimaksud dengan Psikologi Kepribadain Islam adalah “studi Islam yang berhubungan dengan tingkah laku manusia berdasarkan pendekatan psikologis dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada sang Khalik-Nya agar dapat meningkatkan kualitas hisup di dunia dan akhirat.” Rumusan tersebut memiliki lima kompenen dasar yakni sebagai berikut.
Pertama, Studi Islam. Psikologi Kepribadian Islam merupakan salah satu kajian dalam studi keislaman, bukan bagian dari studi (atau cabang) psikologi. Sebagai disiplin ilmu keislaman, ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin keislaman yang lain, seperti teologi Islam, hukum Islam, ekonomi Islam, kebudayaan Islam, polotik Islam, dan sebaginya. Penggunaan term Islam disini memiliki arti corak, pola pikir, atau aliran dalam psikologikepribadian, yang memiliki eksistensi unik dibading dengan aliran psikologi kepribadian lain. Keunikannya baik dari aspek ontologi, epistimologi maupun aksiologinya. Studi Islam di sini juga memiliki arti bahwa bangunan kepribadain didasarkan atas Alquran, al-Sunnah, khazanah Islam sendiri, bukan dari bangunan kepribadain Barat.
Kedua, yang berhubungan dengan tingkah laku, manusia. Psikologi Kepribadain Islam mempelajari tingkah laku manusia. Dalam bentuk potensial, seluruh tingkah laku manusiatelah memilki takdir atau sunnatullah yang ditetapkan oleh Tuhan, meskipun takdir yang dimaksud memiliki banyak pilihan. Namun dalam bentuk aktual, manusia diberi kebebasan untuk mengekspresikannya, sehingga menimbulkan dinamika tingkah laku. Setiap tingkah laku memilki citra (image) dan keunikan tersendiri sesuai sesuai apa yang terdapat pada pelakunya. Tingkah laku disini bisa berupatingkah laku lahir maupun tingkah laku batin atau kedua-duanya. Tingkah laku lahir ada yang mencerminkan tingkah laku batinnya dan ada juga yang berbeda. Baik mencerminkan atau tidak semuanya disebut dengan tingkah laku.
Ketiga, berdasarkan pendekatan psikolohid. Studi tentang kepribadian dapat didekati dengan beberapa pendekatan, misalnya filsafat, psikologi, antropologi, dan sebagainya. Psikologi Kepribadain Islam merupakan studi kepribadain Islam yang dipandang dari sudut psikologi. Studi ini setidak-tidaknya menggambarkan apa dan bagaimana tingkah laku manusia menurut pandangan Islam yang ditimbulkan dari jiwanya.
Kempat, dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada Sang Khalik. Psikologi Kepribadain Islam mengkaji tingkah laku manusia dengan berpijak pada fungsi kehidupan manusia. Manusia adalah sebagai mandataris Sang Khalik untuk menjadai khalifah dimuka bumi. Dalam bertingkah laku, manusia selain diberi potensi fitrah, juga memiliki relasi sesamanya dan dikaruniai alam dan isinya untuk dikelola yang baik. Oleh karena kedudukan ini maka setiap realisasi tingkah laku manusia merupakan cerminan ibadah, baik berkaitang dengan Tuhan, diri sendiri, sesamanya, serta pada alam semesta.
Kelima, untuk meningkatkan kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Psikologi kepribadian Islam syarat akan nilai, yang dapat menghantarkan kebahagiaan hidup manusia. Kebahagian yang dimaksud tidak terbatas pada kebahagiaan duniawi yang sifatnya temporer dan semu, tetapi juga kebahgiaan ukhrowi yang sifatnya abadi dan hakiki. Pda aspek ini, Psikologi Kepribadain Islam bukan sekedar memotret dan mengidentifikasi tingkah laku (bicara apa adanya), melainkan juga mengungkap bagaimana seharusnya tingkah laku itu. Tentunya dalam hal ini tidak terlepas norma-norma baik-buruk yang telah ditetapka oleh Sang Khalik. Oleh karena tujuan ini maka studi Psikologi Kepribadain Islam diharapkan memiliki implikasi penting dalam kehidupan manusia..
Tanda Sebab Dan Kesan Sombong
Perkataan kibir mengikut istilah bahasa Melayu, ertinya ialah sombong atau angkuh. Pengertian dalam bahasa moden ialah ego. Mengikut syariat Islam, erti kibir ialah membesarkan diri kerana merasakan diri mempunyai kelebihan dan keistimewaan sehingga lupa kepada Allah dan menderhakainya. Pengertian mengikut istilah syariat inilah yang akan dihuraikan di sini. Sifat kibir atau sombong atau angkuh atau ego bermakna membesarkan diri kerana hati merasakan diri mempunyai kelebihan, keistimewaan dan kehebatan. Ia merupakan sifat batin (mazmumah) yang paling keji. Bahkan ia adalah sifat batin yang sangat jahat. Dosa dan kesalahan pertama yang dilakukan oleh makhluk Allah terhadap Allah ialah sifat sombong.
Iblis enggan sujud kepada Nabi Adam a.s. sewaktu Allah memerintahkannya. Dia membesarkan diri lantaran merasakan dirinya lebih utama dan lebih mulia daripada Nabi Adam a.s. Kejadiannya daripada api sedangkan Nabi Adam a.s. daripada tanah. Itu saja penyebab yang dia rasa dirinya lebih hebat dan istimewa. Peristiwa kesombongan iblis ini Allah ceritakan dalam Al Quran, firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Kami memerintahkan kepada malaikat: ‘Sujudlah kepada Ada.’ Dia (Iblis) enggan dan membesarkan dirinya. Maka sesungguhnya dia adalah dari golongan musyrik.” (Al Baqarah: 34)
Di sini Allah menceritakan bagaimana keengganan iblis untuk tunduk dan taat dengan arahan Allah. Bahkan ia membesarkan diri kerana merasa dirinya lebih hebat dan mulia daripada Nabi Adam a.s. Maka dia menjadi kafir dan menerima kutukan Allah dunia Akhirat. Allah keluarkan dia dari Syurga yang penuh nikmat dan menukar wajahnya menjadi seburuk-buruk rupa. Di sinilah bermula dendamnya kepada Nabi Adam a.s. dan anak cucu cicitnya yang tidak pernah padam sesaat pun. Jelas, daripada penyakit sombong ini akan lahirlah penyakitpenyakit batin yang lain seperti pemarah, pendendam dan hasad dengki. Dari sini lahirlah buahnya di dalam tindakan lahir seperti kasar, keras, mengangkat-angkat diri, mengumpat dan menghina orang, menganiaya, penindasan, diskriminasi, penzaliman dan pembunuhan.
Sebab itu sombong sangat dimurkai Allah SWT. Kesan daripada sifat sombong ini tercetus kerosakan dalam kehidupan masyarakat seperti hilang kasih sayang, pecah per-paduan, saling berdendam, hina-menghina, kata-mengata dan jatuh-menjatuhkan serta berbunuh-bunuhan. Itulah kemuncaknya. Sebab itu sifat sombong ini mesti dikikisbuangkan. Sifat sombong ini hanya layak bagi Allah. Ia pakaian Tuhan maka makhluk tidak berhak memakainya. Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi: “Sombong itu selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa merampas salah satu darinya, Aku lemparkan dia ke Neraka Jahannam.” (Riwayat Abu Daud) Di antara ayat Quran yang sangat melarang kita memakai sifat kibir ini ialah: “Sesungguhnya orang-orang yang meyombongkan diri daripada menyembah-Ku, akan masuk ke Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60) “Janganlah kamu berjalan dengan menyombomgkan diri kerana sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan ketinggianmu tidak akan melepasi gunung.” (Al Israk: 37) “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang sombong.” (An Nahl: 23)
Sedangkan sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang lain yang sebanyak 99 (Asmaul Husna) itu tidak salah untuk hamba-hamba-Nya memilikinya. Misalnya sifat Rahman, Rahim, Kaya, Kasih Sayang, Pemurah, Pemaaf, Alim dan lain-lain lagi. Ini dibenarkan bahkan diperintahkan supaya kita memilikinya. Oleh kerana sifat sombong ini menjadi punca tercetusnya penyakit-penyakit batin (mazmumah) yang lain sehingga melahirkan kejahatan-kejahatan lahiriah yang banyak di tengah kehidupan masyarakat, maka sombong ini sangat dikeji dan dimurkai Allah. Rasulullah SAW juga ada mengingatkan dalam Hadis baginda tentang bahayanya sifat sombong. “Tidak akan masuk Syurga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (Riwayat Muslim)
Tidak akan masuk Syurga, ertinya ke Nerakalah jawabnya. Dengan membawa sikap sombong, di dunia lagi orang tidak suka dan tidak ada kedamaian jiwa. Di Akhirat terjun ke Neraka. Sebab itu sombong ini mesti dicabut sampai ke akar umbinya hingga tidak ada walaupun sebesar zarah, barulah kita selamat. Walhal mengikut kata Imam Al Ghazali, sifat sombong ini hampir-hampir mustahil dapat dibuang. Oleh itu kita mesti mengenal pasti lebih dahulu tanda-tanda penyakit ini dan sebab atau punca-punca penyakit supaya mudah mengubati atau mengikisnya.
TANDA-TANDA SIFAT SOMBONG
Langkah-langkah untuk mengenal pasti adanya penyakit ini ialah melalui pergaulan sesama manusia. Melalui pergaulan, akan dapat dikesan sifat sombong sama ada sombong yang keterlaluan, sederhana atau ringan. Apakah tanda-tanda seseorang itu memiliki sifat sombong? Di antaranya:
1. Payah menerima pandangan orang lain sekalipun hatinya merasakan pandangan orang itu lebih baik daripadanya. Apatah lagi kalau pandangan itu datang daripada orang yang lebih rendah daripadanya sama ada rendah umur, pangkat atau lain-lain lagi.
2. Mudah marah atau emosional. Bila berlaku perbincangan dua hala, cepat tersinggung atau cepat naik darah kalau ada orang tersilap atau tersalah.
3. Memilih-milih kawan. Suka berkawan hanya dengan orang yang satu ‘level’ atau sama taraf dengannya. Manakala dengan orang bawahan atau lebih rendah kedudukannya, dia tidak suka bergaul atau bermesra, takut jatuh status atau darjat dirinya. Bahkan dengan orang yang sama level dengannya pun masih dipilih-pilih lagi. Yakni dia suka dengan orang yang mahu mendengar dan mentaati kata-katanya. Mereka inilah saja yang dia boleh bermesra, duduk sama atau semajlis dengannya.
4. Memandang hina pada golongan bawahan.
5. Dalam perbahasan atau perbincangan, selalunya dia suka meninggikan suara atau menguatkan suara lebih daripada yang diperlukan.
6. Dalam pergaulan dia suka kata-katanya didengari, diambil perhatian dan diikuti. Sebaliknya di pihaknya sendiri, susah untuk mendengar cakap atau nasihat orang lain serta tidak prihatin dengan cakap orang. Apatah lagi untuk mengikut cakap orang lain.
7. Dalam pergaulannya, dia saja yang memborong untuk bercakap dan tidak suka memberi peluang kepada orang lain bercakap. Kalau ada orang lain bercakap, dia suka memotong percakapan orang itu.
8. Kalau dia jadi pemimpin, dia memimpin dengan kasar dan keras terhadap pengikut-pengikutnya atau orang bawahannya. Ia membuat arahan tanpa timbang rasa dan tidak ada perikemanusiaan. Kalau dia menjadi pengikut, susah pula untuk taat dan patuh pada pemimpinnya.
9. Susah hendak memberi kemaafan kepada orang yang tersilap dengannya. Bahkan ditengking-tengking, diherdik, dikata-kata atau dihina-hina. Di belakangnya diumpat-umpat.
10. Kalau dia yang bersalah, susah dan berat hendak minta maaf. Rasa jatuh wibawa bila merendah diri meminta maaf. Bahkan dia tidak mengaku bersalah.
11. Dia suka dihormati. Tersinggung kalau tidak dihormati. Tetapi dia sendiri susah atau berat untuk menghormati orang lain.
12. Mudah berdendam dengan orang lain terutamanya bila orang itu tersilap.
13. Suka menzalimi orang sama ada secara kasar atau secara halus.
14. Kurang bermesra dengan orang kecuali terpaksa kerana perlukan orang itu atau kerana takutkan orang itu.
15. Suka memperkatakan keburukan orang seperti mengumpat, memfitnah serta membenci orang.
16. Kurang menghormati pemberian orang atau tidak menghargai pemberian orang lain.
17. Suka mengangkat-angkat diri atau menceritakan kelebihan diri.
18. Suka menghina dan menjatuhkan air muka orang di hadapan orang lain.
19. Kurang menghormati nikmat-nikmat Allah. Kalau ada makanan, berlaku pembaziran atau membuang makanan yang berlebihan. Kalau ada pakaian walaupun masih elok dipakai tetapi suka berganti dengan yang baru. Pakaian yang lama dibuang. Kalau ada duit lebih, suka beli barang yang tidak diperlukan. Semua itu lebih digemari daripada memberi nikmat yang berlebihan itu kepada orang lain.
20. Kalau berdiri, lebih suka bercekak pinggang (kerana membesarkan diri). Kalau bercakap, menepuk-nepuk meja dan suka mencemik. Kalau berjalan suka bergaya, menghentak-hentak kaki atau berjalan membusung dada.
21. Kurang memberi simpati atau kurang menolong orang lain melainkan ada tujuan-tujuan dunia atau kerana takut dengan orang itu.
22. Kurang minat menerima tetamu atau tidak suka jadi tetamu orang.
23. Tidak suka menyebut kelebihan-kelebihan orang lain kerana takut mencabar dirinya.
24. Kesalahan-kesalahan orang lain dibesar-besarkan sedangkan kesalahan sendiri didiamkan, disorokkan, buat-buat tidak tahu atau cuba mempertahankan diri supaya orang menganggap dia tidak bersalah.
25. Sangat tidak senang dengan kejayaan atau kebolehan orang lain.
26. Dia sangat tersinggung kalau ada orang memuji-muji atau menyebut kelebihan-kelebihan orang lain di hadapannya. Tetapi kalau dia dipuji, terserlah pada air mukanya rasa bangga dan senang hati. Senarai tanda-tanda, riak-riak atau sikap-sikap di atas sudah cukup jelas untuk kita dapat mengenali sifat sombong ini. Bila sudah dikenal pasti ertinya memudahkan kita mengatasi atau mencabut sifat keji ini.
SEBAB-SEBAB SOMBONG
Sebelum mencabut sifat sombong yang keji ini perlu kita tahu kenapa sifat ini boleh berlaku. Ini juga merupakan faktor pem-bantu untuk memudahkan kita mengikis sifat ini. Macamlah jerawat yang ada di pipi. Kalau kita kenal tanda jerawat, kemudian tahu kenapa boleh timbul jerawat, barulah mudah untuk kita mengubat jerawat itu. Faktor-faktor penyebab yang menjadikan seseorang itu memiliki sifat-sifat sombong, di antaranya ialah:
1. Memiliki kuasa, sama ada dia memiliki kuasa besar atau kecil. Kuasa besar itu seperti jadi raja, presiden, perdana menteri, gabenor dan lain-lain lagi. Kuasa kecil seperti jadi pegawai, penghulu, guru besar, guru-guru dan lain-lain lagi. Kuasa yang ada itu mendorongnya menjadi sombong. 2. Mempunyai ilmu pengetahuan sama ada pengetahuan tentang dunia atau pengetahuan tentang Akhirat. Sama ada pengetahuan di banyak bidang atau di satu bidang. Ini jadi pendorong seseorang itu menjadi sombong kerana dia rasa lebih pandai daripada orang lain.
3. Mempunyai harta kekayaan. Harta juga mendorong seseorang itu menjadi sombong.
4. Mempunyai kegagahan iaitu orang yang mempunyai kekuatan fizikal atau mempunyai kepandaian dalam mempertahankan diri seperti tinju, gusti, tae kwan do, silat dan lain-lain lagi. Ini juga mendorongnya menjadi sombong. 5. Keturunan. Ada orang jadi sombong kerana berketurunan bangsawan, berketurunan ulama dan lain-lain lagi, lantas merasa diri mulia serta memandang orang lain hina berbanding dengan dirinya.
6. Sebab-sebab yang lain seperti berwajah tampan dan cantik, disayangi oleh orang besar, disayangi suami, disayangi oleh ibu ayah dan lain-lain lagi. Ini juga pendorong menjadi sombong.
7. Bukan sebab-sebab yang di atas tadi, tapi mungkin dia orang miskin atau orang jahil atau orang hodoh atau orang cacat atau orang lemah sedangkan dia tetap sombong. Ini dikatakan bodoh sombong. Orang ini walaupun tidak ada sebab khusus untuk dia berlaku sombong tetapi oleh kerana benih sifat sombong yang semula jadi ada dalam diri itu tidak terdidik dan tidak cuba untuk dikikisbuangkan atau tidak dicabut, bahkan disuburkan, maka tetaplah dia dengan sikap sombongnya. Golongan yang sombong di taraf ini bilamana tidak sedar atau tidak kenal dirinya yang sebenar, inilah yang jadi pendorong dia bersifat sombong. Kalau begitu ada golongan manusia yang sombongnya bersebab dan ada pula golongan manusia yang sombongnya tidak bersebab. Tetapi kebanyakan manusia itu sombongnya bersebab, seperti yang disebutkan di atas tadi. Bersebab atau tidak, sifat sombong tetap mesti dicabut dan dibuang. Jika tidak, ia akan memberi kesan yang buruk di tengah kehidupan masyarakat.
KESAN SIFAT SOMBONG
Di antara kesan sifat sombong ialah:
1. Orang benci kepadanya. Fitrah semula jadi manusia tidak suka kepada orang yang bersifat sombong ini. Hati yang benci-membenci tentulah tidak ada kasih sayang, akhirnya tidak wujud perpaduan. Ini bererti umat Islam tidak ada kekuatan. Risikonya, Islam menjadi lemah, lumpuh dan runtuh kerana tidak ada pautan hati antara satu sama lain. Ini sangat merugikan umat Islam dan Islam sendiri. Maknanya, apabila sifat sombong dimiliki bersama, semuanya bersalah dan berdosa sehingga menyebabkan tamadun roh dan tamadun material tidak dapat dibangunkan.
2. Mudah marah, di mana kebiasaannya kemarahan akan berakhir dengan perbalahan dan pergaduhan.
3. Bilamana wujud sifat sombong, lahirlah penyakit yang berikutnya iaitu mudah berdendam, hasad dengki dengan manusia, mudah hendak bertindak balas di atas kesilapan orang lain. Kadang-kadang belum tentu silapnya, dia telah gopoh-gapah bertindak. Mudah pula sakit hati terhadap kejayaan dan kebolehan orang lain sehingga berusaha se-daya upaya untuk merosakkan atau menjatuhkan orang itu. Akhirnya tentulah timbul permusuhan sesama manusia. Lebih besar dari itu, akan berakhir dengan peperangan dan pembunuhan bilamana berlaku tindak balas daripada orang lain atau golongan lain pula.
Kesombongan sangat membahayakan masyarakat manusia dan dunia seluruhnya. Lantaran ini Allah sangat murka dan Allah tempatkan mereka ini di Neraka bersama Firaun, Namrud, Hamman dan lain-lain orang yang zalim dan angkuh itu. Memandangkan betapa merbahayanya penyakit ini maka usaha-usaha lahir mesti dibuat untuk membendungnya. Beberapa panduan dan kaedah diberi untuk mengikisbuang dan mengubatinya secepat mungkin secara serius supaya kita tidak terus mengidap penyakit yang mengerikan ini. Di antara cara-caranya ialah:
1. Ada ilmu tentang sifat-sifat mazmumah. Adanya ilmu ibarat ada cahaya yang mampu menyuluh sifat-sifat mazmumah di dalam diri itu termasuk sifat kibir atau sombong. Perlunya ilmu kerana ia merupakan sifat batiniah yang sesetengah orang payah mengesannya tetapi mudah pula dikesan oleh orang lain.
2. Bawa berfikir selalu tentang kejadian manusia. Sedarkan hati kita bahawa soal kejadian manusia itu adalah sama. Yakni daripada tanah dan mati kembali ke tanah semula. Walau bagaimana hebat sekalipun seseorang itu, kejadiannya sama dengan orang lain. Kejadian yang pertama asalnya daripada tanah. Walaupun berdarjat, berpangkat, berkuasa, berharta, berilmu, sama ada yang alim atau tidak, yang kaya atau miskin, yang cantik atau buruk, namun mereka semuanya sama. Samasama berasal daripada tanah. Lihatlah raja-raja besar seperti Firaun. Walau bagaimana hebatnya dia sehingga mengaku dirinya tuhan, di manakah dia sekarang? Bukankah dia tidak dapat mempertahankan kehebatannya, akhirnya mati dan kembali ke tanah! Jadi untuk apa dibangga-banggakan dengan kehebatan dan keistimewaan masing-masing. Sedangkan semuanya setaraf, yakni berasal daripada tanah dan akhirnya kembali ke tanah jua. Tidak mampu untuk memanjangkan umur sendiri.
3. Fikirkan dan sedarkan hati kita bahawa kejadian manusia yang kedua adalah daripada air mani yang hina. Kalau diperlihatkan kepada manusia, amat jijik dan benci sekali untuk melihatnya. Ertinya, kejadian manusia itu tidak ada beza di antara satu sama lain, sama ada orang kaya, orang berilmu, pembesar atau lain-lain lagi, semuanya berasal daripada air mani yang hina. Kalaulah orang kaya berasal daripada intan, pembesar daripada emas, orang berilmu daripada berlian dan orang biasa berasal daripada air mani, boleh jugalah berbanggabangga. Ini tidak, semuanya berasal daripada benda yang sama iaitu air mani yang hina. Dari segi kejadian, tidak ada perbezaan apa-apa pun. Jadi untuk apa kita berbangga-bangga dengan keistimewaan diri pada orang lain?
4. Melihat respon orang lain terhadap kita. Dalam pergaulan hidup, dapat dikesan respon orang lain kepada kita. Kalau kita sombong, semua orang akan benci. Anak isteri tidak suka, jiran-jiran meluat, kenalan renggang dan pengikut tidak suka. Apa pendapat kita? Adakah untung kita mempertahankan sikap begitu? Apalah indahnya! Bukankah kita dapat rasakan betapa buruk padahnya akibat mempertahankan penyakit keji dan jahat ini. Lebih-lebih lagi kerja kita tidak semua kita mampu uruskan sendiri. Lagi tinggi pangkat dan darjat, lagi banyak urusan kerja yang perlu dibereskan, dibantu oleh tenaga-tenaga orang lain sama ada secara langsung mahupun tidak langsung. Oleh itu pertolongan, bantuan dan titik peluh orang lain tidak boleh kita lupakan. Kalau tidak ada mereka ertinya kita tidak jadi hebat dan kaya. Kalau begitu untuk apa kita rasa lebih istimewa? Bilamana orang sudah benci, di waktu-waktu tertentu seperti waktu sakit atau waktu kematian atau kecemasan, masyarakat akan pulaukan. Atau lambat-lambatkan bantuan atau tidak beri bantuan supaya kita terasa susah lebih dahulu. Ini semua hasil dari mereka sakit hati dengan sifat sombong kita itu.
5. Ambil iktibar dari pengalaman hidup. Apabila ada kelebihan, keistimewaan dan kehebatan, bolehkah bersifat sombong? Cuba fikirkan kejadian-kejadian yang berlaku dalam pengalaman hidup seharian. Apakah kita berkuasa mengelakkan diri daripada sakit? Apakah kita mampu melawan kuasa tentera Allah yang dihantar melalui bencana alam dan lain-lain lagi? Apakah anda mampu melawan kematian dengan kesombongan dan kekibiran itu? Tentu tidak! Kalau begitu kenapa kita merasakan lebih istimewa daripada orang lain? Walhal tidak ada keistimewaan apa-apa pun yang menjadi milik kita. Semua itu Allah pinjamkan sekejap. Jadi tidak ada apa-apa pun kehebatan kita jika dibandingkan dengan orang lain.
Kadang-kadang Allah beri kita kelebihan ilmu, kekayaan, pangkat dan lain-lain, tapi dalam masa yang sama kitalah yang paling banyak mengidap sakit. Misalnya sakit jantung, kencing manis, darah tinggi dan lain-lain sehingga kelebihan dan keistimewaan-keistimewaan itu semuanya tidak ada erti apaapa lagi. Akhirnya, nikmat yang dikumpul-kumpulkan sekian lama, tidak dapat dinikmati sendiri tetapi dinikmati oleh orang lain. Oleh itu untuk apa dibangga-banggakan dengan kehebatan yang ada itu? 6. Ingat azab Allah untuk orang yang sombong.
Cubalah renungkan. Ingatkanlah di hati bahawa sombong ini sangat dimurkai oleh Allah. Kita dianggap sudah merampas pakaian-Nya. Akibatnya, kita akan dicampakkan ke Neraka yang panas apinya 70 kali ganda kekuatan api dunia dan dalamnya 70 ribu tahun perjalanan baru sampai ke dasarnya. Ingatkan Neraka yang keseluruhannya api. Di atasnya api, di bawahnya api, di kiri api, di kanan api, di depan api, di belakang api yang memakan dan menghanguskan daging-daging dan tulang-belulang. Kemudian diganti lagi dengan tubuh yang baru dan diseksa lagi. Begitulah berulang-ulang berlaku sepanjang masa. Walhal di waktu itu kita dibelenggu kaki dan tangan serta dicemeti berterusan oleh malaikat Zabaniah. Bau Neraka yang busuk itu tidak dapat digambarkan. Kalaulah ditakdirkan bau itu tercium oleh penduduk dunia, akan matilah semua lantaran busuknya. Perkara-perkara di atas tadi perlu difikir-fikirkan, direnung-renungkan dan diulang-ulang memikirkannya. Diingat selalu dalam hati hingga tidak dapat dilupakan lagi. Kesannya nanti akan timbul rasa malu dan takut untuk kita bersikap ego dengan Tuhan dan dengan manusia.
Dengan cara-cara atau kaedah ini moga-moga membantu kita mudah untuk bermujahadah menumpaskan sombong ini. Harapan kita moga-moga Allah sentiasa memimpin kita agar menjadi hamba-hamba-Nya yang merendah diri.
Iblis enggan sujud kepada Nabi Adam a.s. sewaktu Allah memerintahkannya. Dia membesarkan diri lantaran merasakan dirinya lebih utama dan lebih mulia daripada Nabi Adam a.s. Kejadiannya daripada api sedangkan Nabi Adam a.s. daripada tanah. Itu saja penyebab yang dia rasa dirinya lebih hebat dan istimewa. Peristiwa kesombongan iblis ini Allah ceritakan dalam Al Quran, firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Kami memerintahkan kepada malaikat: ‘Sujudlah kepada Ada.’ Dia (Iblis) enggan dan membesarkan dirinya. Maka sesungguhnya dia adalah dari golongan musyrik.” (Al Baqarah: 34)
Di sini Allah menceritakan bagaimana keengganan iblis untuk tunduk dan taat dengan arahan Allah. Bahkan ia membesarkan diri kerana merasa dirinya lebih hebat dan mulia daripada Nabi Adam a.s. Maka dia menjadi kafir dan menerima kutukan Allah dunia Akhirat. Allah keluarkan dia dari Syurga yang penuh nikmat dan menukar wajahnya menjadi seburuk-buruk rupa. Di sinilah bermula dendamnya kepada Nabi Adam a.s. dan anak cucu cicitnya yang tidak pernah padam sesaat pun. Jelas, daripada penyakit sombong ini akan lahirlah penyakitpenyakit batin yang lain seperti pemarah, pendendam dan hasad dengki. Dari sini lahirlah buahnya di dalam tindakan lahir seperti kasar, keras, mengangkat-angkat diri, mengumpat dan menghina orang, menganiaya, penindasan, diskriminasi, penzaliman dan pembunuhan.
Sebab itu sombong sangat dimurkai Allah SWT. Kesan daripada sifat sombong ini tercetus kerosakan dalam kehidupan masyarakat seperti hilang kasih sayang, pecah per-paduan, saling berdendam, hina-menghina, kata-mengata dan jatuh-menjatuhkan serta berbunuh-bunuhan. Itulah kemuncaknya. Sebab itu sifat sombong ini mesti dikikisbuangkan. Sifat sombong ini hanya layak bagi Allah. Ia pakaian Tuhan maka makhluk tidak berhak memakainya. Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi: “Sombong itu selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa merampas salah satu darinya, Aku lemparkan dia ke Neraka Jahannam.” (Riwayat Abu Daud) Di antara ayat Quran yang sangat melarang kita memakai sifat kibir ini ialah: “Sesungguhnya orang-orang yang meyombongkan diri daripada menyembah-Ku, akan masuk ke Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60) “Janganlah kamu berjalan dengan menyombomgkan diri kerana sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan ketinggianmu tidak akan melepasi gunung.” (Al Israk: 37) “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang sombong.” (An Nahl: 23)
Sedangkan sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang lain yang sebanyak 99 (Asmaul Husna) itu tidak salah untuk hamba-hamba-Nya memilikinya. Misalnya sifat Rahman, Rahim, Kaya, Kasih Sayang, Pemurah, Pemaaf, Alim dan lain-lain lagi. Ini dibenarkan bahkan diperintahkan supaya kita memilikinya. Oleh kerana sifat sombong ini menjadi punca tercetusnya penyakit-penyakit batin (mazmumah) yang lain sehingga melahirkan kejahatan-kejahatan lahiriah yang banyak di tengah kehidupan masyarakat, maka sombong ini sangat dikeji dan dimurkai Allah. Rasulullah SAW juga ada mengingatkan dalam Hadis baginda tentang bahayanya sifat sombong. “Tidak akan masuk Syurga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (Riwayat Muslim)
Tidak akan masuk Syurga, ertinya ke Nerakalah jawabnya. Dengan membawa sikap sombong, di dunia lagi orang tidak suka dan tidak ada kedamaian jiwa. Di Akhirat terjun ke Neraka. Sebab itu sombong ini mesti dicabut sampai ke akar umbinya hingga tidak ada walaupun sebesar zarah, barulah kita selamat. Walhal mengikut kata Imam Al Ghazali, sifat sombong ini hampir-hampir mustahil dapat dibuang. Oleh itu kita mesti mengenal pasti lebih dahulu tanda-tanda penyakit ini dan sebab atau punca-punca penyakit supaya mudah mengubati atau mengikisnya.
TANDA-TANDA SIFAT SOMBONG
Langkah-langkah untuk mengenal pasti adanya penyakit ini ialah melalui pergaulan sesama manusia. Melalui pergaulan, akan dapat dikesan sifat sombong sama ada sombong yang keterlaluan, sederhana atau ringan. Apakah tanda-tanda seseorang itu memiliki sifat sombong? Di antaranya:
1. Payah menerima pandangan orang lain sekalipun hatinya merasakan pandangan orang itu lebih baik daripadanya. Apatah lagi kalau pandangan itu datang daripada orang yang lebih rendah daripadanya sama ada rendah umur, pangkat atau lain-lain lagi.
2. Mudah marah atau emosional. Bila berlaku perbincangan dua hala, cepat tersinggung atau cepat naik darah kalau ada orang tersilap atau tersalah.
3. Memilih-milih kawan. Suka berkawan hanya dengan orang yang satu ‘level’ atau sama taraf dengannya. Manakala dengan orang bawahan atau lebih rendah kedudukannya, dia tidak suka bergaul atau bermesra, takut jatuh status atau darjat dirinya. Bahkan dengan orang yang sama level dengannya pun masih dipilih-pilih lagi. Yakni dia suka dengan orang yang mahu mendengar dan mentaati kata-katanya. Mereka inilah saja yang dia boleh bermesra, duduk sama atau semajlis dengannya.
4. Memandang hina pada golongan bawahan.
5. Dalam perbahasan atau perbincangan, selalunya dia suka meninggikan suara atau menguatkan suara lebih daripada yang diperlukan.
6. Dalam pergaulan dia suka kata-katanya didengari, diambil perhatian dan diikuti. Sebaliknya di pihaknya sendiri, susah untuk mendengar cakap atau nasihat orang lain serta tidak prihatin dengan cakap orang. Apatah lagi untuk mengikut cakap orang lain.
7. Dalam pergaulannya, dia saja yang memborong untuk bercakap dan tidak suka memberi peluang kepada orang lain bercakap. Kalau ada orang lain bercakap, dia suka memotong percakapan orang itu.
8. Kalau dia jadi pemimpin, dia memimpin dengan kasar dan keras terhadap pengikut-pengikutnya atau orang bawahannya. Ia membuat arahan tanpa timbang rasa dan tidak ada perikemanusiaan. Kalau dia menjadi pengikut, susah pula untuk taat dan patuh pada pemimpinnya.
9. Susah hendak memberi kemaafan kepada orang yang tersilap dengannya. Bahkan ditengking-tengking, diherdik, dikata-kata atau dihina-hina. Di belakangnya diumpat-umpat.
10. Kalau dia yang bersalah, susah dan berat hendak minta maaf. Rasa jatuh wibawa bila merendah diri meminta maaf. Bahkan dia tidak mengaku bersalah.
11. Dia suka dihormati. Tersinggung kalau tidak dihormati. Tetapi dia sendiri susah atau berat untuk menghormati orang lain.
12. Mudah berdendam dengan orang lain terutamanya bila orang itu tersilap.
13. Suka menzalimi orang sama ada secara kasar atau secara halus.
14. Kurang bermesra dengan orang kecuali terpaksa kerana perlukan orang itu atau kerana takutkan orang itu.
15. Suka memperkatakan keburukan orang seperti mengumpat, memfitnah serta membenci orang.
16. Kurang menghormati pemberian orang atau tidak menghargai pemberian orang lain.
17. Suka mengangkat-angkat diri atau menceritakan kelebihan diri.
18. Suka menghina dan menjatuhkan air muka orang di hadapan orang lain.
19. Kurang menghormati nikmat-nikmat Allah. Kalau ada makanan, berlaku pembaziran atau membuang makanan yang berlebihan. Kalau ada pakaian walaupun masih elok dipakai tetapi suka berganti dengan yang baru. Pakaian yang lama dibuang. Kalau ada duit lebih, suka beli barang yang tidak diperlukan. Semua itu lebih digemari daripada memberi nikmat yang berlebihan itu kepada orang lain.
20. Kalau berdiri, lebih suka bercekak pinggang (kerana membesarkan diri). Kalau bercakap, menepuk-nepuk meja dan suka mencemik. Kalau berjalan suka bergaya, menghentak-hentak kaki atau berjalan membusung dada.
21. Kurang memberi simpati atau kurang menolong orang lain melainkan ada tujuan-tujuan dunia atau kerana takut dengan orang itu.
22. Kurang minat menerima tetamu atau tidak suka jadi tetamu orang.
23. Tidak suka menyebut kelebihan-kelebihan orang lain kerana takut mencabar dirinya.
24. Kesalahan-kesalahan orang lain dibesar-besarkan sedangkan kesalahan sendiri didiamkan, disorokkan, buat-buat tidak tahu atau cuba mempertahankan diri supaya orang menganggap dia tidak bersalah.
25. Sangat tidak senang dengan kejayaan atau kebolehan orang lain.
26. Dia sangat tersinggung kalau ada orang memuji-muji atau menyebut kelebihan-kelebihan orang lain di hadapannya. Tetapi kalau dia dipuji, terserlah pada air mukanya rasa bangga dan senang hati. Senarai tanda-tanda, riak-riak atau sikap-sikap di atas sudah cukup jelas untuk kita dapat mengenali sifat sombong ini. Bila sudah dikenal pasti ertinya memudahkan kita mengatasi atau mencabut sifat keji ini.
SEBAB-SEBAB SOMBONG
Sebelum mencabut sifat sombong yang keji ini perlu kita tahu kenapa sifat ini boleh berlaku. Ini juga merupakan faktor pem-bantu untuk memudahkan kita mengikis sifat ini. Macamlah jerawat yang ada di pipi. Kalau kita kenal tanda jerawat, kemudian tahu kenapa boleh timbul jerawat, barulah mudah untuk kita mengubat jerawat itu. Faktor-faktor penyebab yang menjadikan seseorang itu memiliki sifat-sifat sombong, di antaranya ialah:
1. Memiliki kuasa, sama ada dia memiliki kuasa besar atau kecil. Kuasa besar itu seperti jadi raja, presiden, perdana menteri, gabenor dan lain-lain lagi. Kuasa kecil seperti jadi pegawai, penghulu, guru besar, guru-guru dan lain-lain lagi. Kuasa yang ada itu mendorongnya menjadi sombong. 2. Mempunyai ilmu pengetahuan sama ada pengetahuan tentang dunia atau pengetahuan tentang Akhirat. Sama ada pengetahuan di banyak bidang atau di satu bidang. Ini jadi pendorong seseorang itu menjadi sombong kerana dia rasa lebih pandai daripada orang lain.
3. Mempunyai harta kekayaan. Harta juga mendorong seseorang itu menjadi sombong.
4. Mempunyai kegagahan iaitu orang yang mempunyai kekuatan fizikal atau mempunyai kepandaian dalam mempertahankan diri seperti tinju, gusti, tae kwan do, silat dan lain-lain lagi. Ini juga mendorongnya menjadi sombong. 5. Keturunan. Ada orang jadi sombong kerana berketurunan bangsawan, berketurunan ulama dan lain-lain lagi, lantas merasa diri mulia serta memandang orang lain hina berbanding dengan dirinya.
6. Sebab-sebab yang lain seperti berwajah tampan dan cantik, disayangi oleh orang besar, disayangi suami, disayangi oleh ibu ayah dan lain-lain lagi. Ini juga pendorong menjadi sombong.
7. Bukan sebab-sebab yang di atas tadi, tapi mungkin dia orang miskin atau orang jahil atau orang hodoh atau orang cacat atau orang lemah sedangkan dia tetap sombong. Ini dikatakan bodoh sombong. Orang ini walaupun tidak ada sebab khusus untuk dia berlaku sombong tetapi oleh kerana benih sifat sombong yang semula jadi ada dalam diri itu tidak terdidik dan tidak cuba untuk dikikisbuangkan atau tidak dicabut, bahkan disuburkan, maka tetaplah dia dengan sikap sombongnya. Golongan yang sombong di taraf ini bilamana tidak sedar atau tidak kenal dirinya yang sebenar, inilah yang jadi pendorong dia bersifat sombong. Kalau begitu ada golongan manusia yang sombongnya bersebab dan ada pula golongan manusia yang sombongnya tidak bersebab. Tetapi kebanyakan manusia itu sombongnya bersebab, seperti yang disebutkan di atas tadi. Bersebab atau tidak, sifat sombong tetap mesti dicabut dan dibuang. Jika tidak, ia akan memberi kesan yang buruk di tengah kehidupan masyarakat.
KESAN SIFAT SOMBONG
Di antara kesan sifat sombong ialah:
1. Orang benci kepadanya. Fitrah semula jadi manusia tidak suka kepada orang yang bersifat sombong ini. Hati yang benci-membenci tentulah tidak ada kasih sayang, akhirnya tidak wujud perpaduan. Ini bererti umat Islam tidak ada kekuatan. Risikonya, Islam menjadi lemah, lumpuh dan runtuh kerana tidak ada pautan hati antara satu sama lain. Ini sangat merugikan umat Islam dan Islam sendiri. Maknanya, apabila sifat sombong dimiliki bersama, semuanya bersalah dan berdosa sehingga menyebabkan tamadun roh dan tamadun material tidak dapat dibangunkan.
2. Mudah marah, di mana kebiasaannya kemarahan akan berakhir dengan perbalahan dan pergaduhan.
3. Bilamana wujud sifat sombong, lahirlah penyakit yang berikutnya iaitu mudah berdendam, hasad dengki dengan manusia, mudah hendak bertindak balas di atas kesilapan orang lain. Kadang-kadang belum tentu silapnya, dia telah gopoh-gapah bertindak. Mudah pula sakit hati terhadap kejayaan dan kebolehan orang lain sehingga berusaha se-daya upaya untuk merosakkan atau menjatuhkan orang itu. Akhirnya tentulah timbul permusuhan sesama manusia. Lebih besar dari itu, akan berakhir dengan peperangan dan pembunuhan bilamana berlaku tindak balas daripada orang lain atau golongan lain pula.
Kesombongan sangat membahayakan masyarakat manusia dan dunia seluruhnya. Lantaran ini Allah sangat murka dan Allah tempatkan mereka ini di Neraka bersama Firaun, Namrud, Hamman dan lain-lain orang yang zalim dan angkuh itu. Memandangkan betapa merbahayanya penyakit ini maka usaha-usaha lahir mesti dibuat untuk membendungnya. Beberapa panduan dan kaedah diberi untuk mengikisbuang dan mengubatinya secepat mungkin secara serius supaya kita tidak terus mengidap penyakit yang mengerikan ini. Di antara cara-caranya ialah:
1. Ada ilmu tentang sifat-sifat mazmumah. Adanya ilmu ibarat ada cahaya yang mampu menyuluh sifat-sifat mazmumah di dalam diri itu termasuk sifat kibir atau sombong. Perlunya ilmu kerana ia merupakan sifat batiniah yang sesetengah orang payah mengesannya tetapi mudah pula dikesan oleh orang lain.
2. Bawa berfikir selalu tentang kejadian manusia. Sedarkan hati kita bahawa soal kejadian manusia itu adalah sama. Yakni daripada tanah dan mati kembali ke tanah semula. Walau bagaimana hebat sekalipun seseorang itu, kejadiannya sama dengan orang lain. Kejadian yang pertama asalnya daripada tanah. Walaupun berdarjat, berpangkat, berkuasa, berharta, berilmu, sama ada yang alim atau tidak, yang kaya atau miskin, yang cantik atau buruk, namun mereka semuanya sama. Samasama berasal daripada tanah. Lihatlah raja-raja besar seperti Firaun. Walau bagaimana hebatnya dia sehingga mengaku dirinya tuhan, di manakah dia sekarang? Bukankah dia tidak dapat mempertahankan kehebatannya, akhirnya mati dan kembali ke tanah! Jadi untuk apa dibangga-banggakan dengan kehebatan dan keistimewaan masing-masing. Sedangkan semuanya setaraf, yakni berasal daripada tanah dan akhirnya kembali ke tanah jua. Tidak mampu untuk memanjangkan umur sendiri.
3. Fikirkan dan sedarkan hati kita bahawa kejadian manusia yang kedua adalah daripada air mani yang hina. Kalau diperlihatkan kepada manusia, amat jijik dan benci sekali untuk melihatnya. Ertinya, kejadian manusia itu tidak ada beza di antara satu sama lain, sama ada orang kaya, orang berilmu, pembesar atau lain-lain lagi, semuanya berasal daripada air mani yang hina. Kalaulah orang kaya berasal daripada intan, pembesar daripada emas, orang berilmu daripada berlian dan orang biasa berasal daripada air mani, boleh jugalah berbanggabangga. Ini tidak, semuanya berasal daripada benda yang sama iaitu air mani yang hina. Dari segi kejadian, tidak ada perbezaan apa-apa pun. Jadi untuk apa kita berbangga-bangga dengan keistimewaan diri pada orang lain?
4. Melihat respon orang lain terhadap kita. Dalam pergaulan hidup, dapat dikesan respon orang lain kepada kita. Kalau kita sombong, semua orang akan benci. Anak isteri tidak suka, jiran-jiran meluat, kenalan renggang dan pengikut tidak suka. Apa pendapat kita? Adakah untung kita mempertahankan sikap begitu? Apalah indahnya! Bukankah kita dapat rasakan betapa buruk padahnya akibat mempertahankan penyakit keji dan jahat ini. Lebih-lebih lagi kerja kita tidak semua kita mampu uruskan sendiri. Lagi tinggi pangkat dan darjat, lagi banyak urusan kerja yang perlu dibereskan, dibantu oleh tenaga-tenaga orang lain sama ada secara langsung mahupun tidak langsung. Oleh itu pertolongan, bantuan dan titik peluh orang lain tidak boleh kita lupakan. Kalau tidak ada mereka ertinya kita tidak jadi hebat dan kaya. Kalau begitu untuk apa kita rasa lebih istimewa? Bilamana orang sudah benci, di waktu-waktu tertentu seperti waktu sakit atau waktu kematian atau kecemasan, masyarakat akan pulaukan. Atau lambat-lambatkan bantuan atau tidak beri bantuan supaya kita terasa susah lebih dahulu. Ini semua hasil dari mereka sakit hati dengan sifat sombong kita itu.
5. Ambil iktibar dari pengalaman hidup. Apabila ada kelebihan, keistimewaan dan kehebatan, bolehkah bersifat sombong? Cuba fikirkan kejadian-kejadian yang berlaku dalam pengalaman hidup seharian. Apakah kita berkuasa mengelakkan diri daripada sakit? Apakah kita mampu melawan kuasa tentera Allah yang dihantar melalui bencana alam dan lain-lain lagi? Apakah anda mampu melawan kematian dengan kesombongan dan kekibiran itu? Tentu tidak! Kalau begitu kenapa kita merasakan lebih istimewa daripada orang lain? Walhal tidak ada keistimewaan apa-apa pun yang menjadi milik kita. Semua itu Allah pinjamkan sekejap. Jadi tidak ada apa-apa pun kehebatan kita jika dibandingkan dengan orang lain.
Kadang-kadang Allah beri kita kelebihan ilmu, kekayaan, pangkat dan lain-lain, tapi dalam masa yang sama kitalah yang paling banyak mengidap sakit. Misalnya sakit jantung, kencing manis, darah tinggi dan lain-lain sehingga kelebihan dan keistimewaan-keistimewaan itu semuanya tidak ada erti apaapa lagi. Akhirnya, nikmat yang dikumpul-kumpulkan sekian lama, tidak dapat dinikmati sendiri tetapi dinikmati oleh orang lain. Oleh itu untuk apa dibangga-banggakan dengan kehebatan yang ada itu? 6. Ingat azab Allah untuk orang yang sombong.
Cubalah renungkan. Ingatkanlah di hati bahawa sombong ini sangat dimurkai oleh Allah. Kita dianggap sudah merampas pakaian-Nya. Akibatnya, kita akan dicampakkan ke Neraka yang panas apinya 70 kali ganda kekuatan api dunia dan dalamnya 70 ribu tahun perjalanan baru sampai ke dasarnya. Ingatkan Neraka yang keseluruhannya api. Di atasnya api, di bawahnya api, di kiri api, di kanan api, di depan api, di belakang api yang memakan dan menghanguskan daging-daging dan tulang-belulang. Kemudian diganti lagi dengan tubuh yang baru dan diseksa lagi. Begitulah berulang-ulang berlaku sepanjang masa. Walhal di waktu itu kita dibelenggu kaki dan tangan serta dicemeti berterusan oleh malaikat Zabaniah. Bau Neraka yang busuk itu tidak dapat digambarkan. Kalaulah ditakdirkan bau itu tercium oleh penduduk dunia, akan matilah semua lantaran busuknya. Perkara-perkara di atas tadi perlu difikir-fikirkan, direnung-renungkan dan diulang-ulang memikirkannya. Diingat selalu dalam hati hingga tidak dapat dilupakan lagi. Kesannya nanti akan timbul rasa malu dan takut untuk kita bersikap ego dengan Tuhan dan dengan manusia.
Dengan cara-cara atau kaedah ini moga-moga membantu kita mudah untuk bermujahadah menumpaskan sombong ini. Harapan kita moga-moga Allah sentiasa memimpin kita agar menjadi hamba-hamba-Nya yang merendah diri.
Thursday, 6 July 2017
Jauhi Dua Sifat Sangat di Benci Allah SWT iaitu Keras Kepala Dan Suka Bertengkar
أًلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.
Sahabat yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW bersabda maksudnya : “Orang laki-laki yang paling dibenci oleh Allah ialah orang yang keras kepala lagi suka bertengkar.” (Hadis Riwayat Muslim)
Berdasarkan hadis di atas jelaslah kepada kita bahawa ada dua sifat manusia yang paling dibenci oleh Allah SWT iaitu :
Pertama : Keras kepala
Kedua : Suka bertengkar.
Huraiannya :
Pertama : Keras kepala.
Penyakit keras kepala atau degil adalah sifat iblis laknatullah.
Iblis merasa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam a.s. kerana dia diciptakan daripada api sedangkan Adam diciptakan daripada tanah. Iblis keras kepala tidak mahu tunduk kepada perintah Allah SWT dan dia tetap berdegil dengan pendapatnya sendiri dan tidak mematuhi arahan Allah SWT. Sifat keras kepala ini sebenarnya beriringan dengan sifat sombong, bongkak, takbur dan ego.
Kesemua sifat-sifat mazmumah ini amat dibenci oleh Allah SWT dan sifat-sifat ini adalah sifat penghuni neraka.
Allah SWT berfirman yang bermaksud : “(Iblis) menjawab, Kerana Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku selalu menghalangi mereka daripada jalanMu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”(Surah al-A’raf: ayat 16-17)
Ini menunjukkan bahawa kekufuran iblis bukanlah kerana kejahilan bahkan kekufurannya kerana keras kepala dan sombong.
Sabda Nabi SAW maksudnya: "Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan." (Hadis Riwayat Muslim)
Jika kita lihat di dalam masyarakat kita adakah kita bertemu dengan orang yang bersifat keras kepala? Ya, kita akan bertemu dengan ramai manusia yang bersifat keras kepala, degil , ego dan sombong.
Sifat keras kepala ini salah satu sifat mazmumah yang membawa dosa besar selepas kufur. Bahkan dari keras kepala, seseorang itu boleh jadi kufur apabila ego dan kesombongannya itu sudah besar. Dari sifat ini melahirkan lebih banyak mazmumah-mazmumah yang lain. Dari satu mazmumah, beranak-anak mazmumah yang lain. Seolah-olah sifat keras kepala itu bukan buah lagi tetapi ia adalah pokok kejahatan dalam hati manusia, yang akan melahirkan buah-buah kejahatan, yang berduri, kelat dan beracun. Dari sini akan melahirkan sifat pemarah, dendam dan susah terima kebenaran. Dari situ juga melahirkan kezaliman sesama manusia. Sudah berapa banyak sifat yang dilahirkan oleh keras kepala yang bukan sahaja merosakkan dirinya bahkan mengharu-birukan kehidupan, memecahbelahkan rumah tangga, masyarakat, antara etnik dengan etnik, bangsa dengan bangsa dan akhirnya mencetuskan peperangan.
Biasanya orang yang keras kepala adalah terdiri daripada orang-orang kaya, golongan bangsawan, hartawan dan pemimpin masyarakat. Setiap para Rasul yang telah diutuskan kepada kaumnya, majoriti yang menolak dakwah para rasul adalah terdiri daripada mereka yang menjadi penguasa / pemimpin masyarakat dan mereka terdiri daripada golongan hartawan dan bangsawan, sedangkan yang menjadi pengikut setia para rasul adalah golongan miskin yang sentiasa ditindas.
Pintu hati orang yang keras kepala telah tertutup untuk menerima kebenaran. Jika diminta untuk beriman kepada Allah SWT mereka enggan beriman, begitu juga jika diminta berhukum dengan hukum-hukum Allah SWT, mereka memberi macam-macam alasan .
Contoh alasannya sekarang zaman moden hukum-hukum Allah SWT tidak sesuai dengan masyarakat majmuk, jika hukum rejam dijalankan keatas orang yang berzina maka akan habis batu-batu JKR untuk membuat jalan raya, jika hukum potong tangan dijalankan maka umat Islam akan dipandang hina oleh agama lain disebabkan ramai tangan-tangan umat Islam kodong kerana telah dipotong tangan kerana mencuri. Nauzubillahiminzalik! ini sebenarnya jawapan orang-orang fasik dan munafik dan mereka kufur dengan ayat-ayat Allah SWT, kerana mempermain-mainkan hukum-hukum Allah SWT seolah-olah Dia telah berlaku zalim kepada hamba-hamba-Nya.
Dalam surah Nuh jelas menunjukkan bahawa orang yang keras kepala tetap tidak mahu beriman walaupun Nabi Nuh a.s berdakwah siang dan malam selama hampir 950 tahun.
Firman Allah SWT maksudnya : "Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampunkan mereka, mereka memasukkan anak jarinya ketelinganya dan menutupkan bajunya (kewajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri." (Surah Nuh ayat 7)
Nabi Nuh a.s telah habis kesabaran lalu berdoa kepada Allah SWT agar Dia menurunkan azab-Nya di atas kaumnya yang keras kepala seraya berseru:"Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan seorang pun daripada orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mereka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir seperti mereka." (Surah Nuh ayat 26-27)
Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah SWT dan permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, kerana mereka itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam di dalam banjir besar yang diturunkan oleh Allah SWT.
Kedua : Suka bertengkar.
Sabda Nabi SAW yang bermaksud ; "Mahukah kamu semua aku beritahu( sifat-sifat) ahli syurga? Para sahabat menjawab . "Ya", baginda bersabda," Setiap orang lemah dilemahkan, andainya dia meminta kepada Allah, nescaya Allah mengkabulkannya. Mahukah aku beritahu (sifat-sifat) ahli neraka? Setiap orang yang suka bertengkar dengan kasar ('utul) , berlagak (jawwaz) dan sangat sombong (mustakbir) (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Orang yang suka bertengkar dan suka menegakkan pendapatnya sendiri (menegakkan benang yang basah) adalah orang yang angkuh dan sombong. Baginya dia sahaja yang betul dan orang lain semuanya salah. Dia sukar untuk berbincang dengan cara baik kerana dia menganggap pendapat orang lain rendah dan pendapatnya sahaja yang baik dan perlu diutamakan. Sifat ini berlaku disebabkan hatinya sakit dan keras disebabkan dosa-dosa yang menutup pintu hati. Bila melakukan maksiat sudah tidak terasa bahawa maksiat itu adalah perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah SWT.
Nabi SAW bersabda maksudnya : "Jangan terlalu banyak berbicara selain menyebut Allah. Sebab mereka yang banyak berbicara selain menyebut Allah akan mengeraskan hati. Sesungguhnya manusia yang paling jauh daripada Allah ialah pemilik hati yang keras." (Hadis Riwayat Tirmizi daripada Ibnu Umar)
Sahabat yang dimuliakan,
Marilah sama-sama kita menjauhkan diri kita daripada sifat keras kepala dan suka bertengkar kerana kedua-dua sifat ini sangat dibenci oleh Allah SWT. Jika Allah SWT membenci sifat-sifat ini maka Dia tidak akan memberi taufik dan hidayah dan rahmat-Nya kepada sesiapa yang memiliki sifat-sifat ini. Wujudnya kedua-dua sifat ini adalah tanda hati seseorang sedang sakit, keras dan mati.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.
Sahabat yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW bersabda maksudnya : “Orang laki-laki yang paling dibenci oleh Allah ialah orang yang keras kepala lagi suka bertengkar.” (Hadis Riwayat Muslim)
Berdasarkan hadis di atas jelaslah kepada kita bahawa ada dua sifat manusia yang paling dibenci oleh Allah SWT iaitu :
Pertama : Keras kepala
Kedua : Suka bertengkar.
Huraiannya :
Pertama : Keras kepala.
Penyakit keras kepala atau degil adalah sifat iblis laknatullah.
Iblis merasa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam a.s. kerana dia diciptakan daripada api sedangkan Adam diciptakan daripada tanah. Iblis keras kepala tidak mahu tunduk kepada perintah Allah SWT dan dia tetap berdegil dengan pendapatnya sendiri dan tidak mematuhi arahan Allah SWT. Sifat keras kepala ini sebenarnya beriringan dengan sifat sombong, bongkak, takbur dan ego.
Kesemua sifat-sifat mazmumah ini amat dibenci oleh Allah SWT dan sifat-sifat ini adalah sifat penghuni neraka.
Allah SWT berfirman yang bermaksud : “(Iblis) menjawab, Kerana Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku selalu menghalangi mereka daripada jalanMu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”(Surah al-A’raf: ayat 16-17)
Ini menunjukkan bahawa kekufuran iblis bukanlah kerana kejahilan bahkan kekufurannya kerana keras kepala dan sombong.
Sabda Nabi SAW maksudnya: "Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan." (Hadis Riwayat Muslim)
Jika kita lihat di dalam masyarakat kita adakah kita bertemu dengan orang yang bersifat keras kepala? Ya, kita akan bertemu dengan ramai manusia yang bersifat keras kepala, degil , ego dan sombong.
Sifat keras kepala ini salah satu sifat mazmumah yang membawa dosa besar selepas kufur. Bahkan dari keras kepala, seseorang itu boleh jadi kufur apabila ego dan kesombongannya itu sudah besar. Dari sifat ini melahirkan lebih banyak mazmumah-mazmumah yang lain. Dari satu mazmumah, beranak-anak mazmumah yang lain. Seolah-olah sifat keras kepala itu bukan buah lagi tetapi ia adalah pokok kejahatan dalam hati manusia, yang akan melahirkan buah-buah kejahatan, yang berduri, kelat dan beracun. Dari sini akan melahirkan sifat pemarah, dendam dan susah terima kebenaran. Dari situ juga melahirkan kezaliman sesama manusia. Sudah berapa banyak sifat yang dilahirkan oleh keras kepala yang bukan sahaja merosakkan dirinya bahkan mengharu-birukan kehidupan, memecahbelahkan rumah tangga, masyarakat, antara etnik dengan etnik, bangsa dengan bangsa dan akhirnya mencetuskan peperangan.
Biasanya orang yang keras kepala adalah terdiri daripada orang-orang kaya, golongan bangsawan, hartawan dan pemimpin masyarakat. Setiap para Rasul yang telah diutuskan kepada kaumnya, majoriti yang menolak dakwah para rasul adalah terdiri daripada mereka yang menjadi penguasa / pemimpin masyarakat dan mereka terdiri daripada golongan hartawan dan bangsawan, sedangkan yang menjadi pengikut setia para rasul adalah golongan miskin yang sentiasa ditindas.
Pintu hati orang yang keras kepala telah tertutup untuk menerima kebenaran. Jika diminta untuk beriman kepada Allah SWT mereka enggan beriman, begitu juga jika diminta berhukum dengan hukum-hukum Allah SWT, mereka memberi macam-macam alasan .
Contoh alasannya sekarang zaman moden hukum-hukum Allah SWT tidak sesuai dengan masyarakat majmuk, jika hukum rejam dijalankan keatas orang yang berzina maka akan habis batu-batu JKR untuk membuat jalan raya, jika hukum potong tangan dijalankan maka umat Islam akan dipandang hina oleh agama lain disebabkan ramai tangan-tangan umat Islam kodong kerana telah dipotong tangan kerana mencuri. Nauzubillahiminzalik! ini sebenarnya jawapan orang-orang fasik dan munafik dan mereka kufur dengan ayat-ayat Allah SWT, kerana mempermain-mainkan hukum-hukum Allah SWT seolah-olah Dia telah berlaku zalim kepada hamba-hamba-Nya.
Dalam surah Nuh jelas menunjukkan bahawa orang yang keras kepala tetap tidak mahu beriman walaupun Nabi Nuh a.s berdakwah siang dan malam selama hampir 950 tahun.
Firman Allah SWT maksudnya : "Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampunkan mereka, mereka memasukkan anak jarinya ketelinganya dan menutupkan bajunya (kewajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri." (Surah Nuh ayat 7)
Nabi Nuh a.s telah habis kesabaran lalu berdoa kepada Allah SWT agar Dia menurunkan azab-Nya di atas kaumnya yang keras kepala seraya berseru:"Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan seorang pun daripada orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mereka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir seperti mereka." (Surah Nuh ayat 26-27)
Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah SWT dan permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, kerana mereka itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam di dalam banjir besar yang diturunkan oleh Allah SWT.
Kedua : Suka bertengkar.
Sabda Nabi SAW yang bermaksud ; "Mahukah kamu semua aku beritahu( sifat-sifat) ahli syurga? Para sahabat menjawab . "Ya", baginda bersabda," Setiap orang lemah dilemahkan, andainya dia meminta kepada Allah, nescaya Allah mengkabulkannya. Mahukah aku beritahu (sifat-sifat) ahli neraka? Setiap orang yang suka bertengkar dengan kasar ('utul) , berlagak (jawwaz) dan sangat sombong (mustakbir) (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Orang yang suka bertengkar dan suka menegakkan pendapatnya sendiri (menegakkan benang yang basah) adalah orang yang angkuh dan sombong. Baginya dia sahaja yang betul dan orang lain semuanya salah. Dia sukar untuk berbincang dengan cara baik kerana dia menganggap pendapat orang lain rendah dan pendapatnya sahaja yang baik dan perlu diutamakan. Sifat ini berlaku disebabkan hatinya sakit dan keras disebabkan dosa-dosa yang menutup pintu hati. Bila melakukan maksiat sudah tidak terasa bahawa maksiat itu adalah perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah SWT.
Nabi SAW bersabda maksudnya : "Jangan terlalu banyak berbicara selain menyebut Allah. Sebab mereka yang banyak berbicara selain menyebut Allah akan mengeraskan hati. Sesungguhnya manusia yang paling jauh daripada Allah ialah pemilik hati yang keras." (Hadis Riwayat Tirmizi daripada Ibnu Umar)
Sahabat yang dimuliakan,
Marilah sama-sama kita menjauhkan diri kita daripada sifat keras kepala dan suka bertengkar kerana kedua-dua sifat ini sangat dibenci oleh Allah SWT. Jika Allah SWT membenci sifat-sifat ini maka Dia tidak akan memberi taufik dan hidayah dan rahmat-Nya kepada sesiapa yang memiliki sifat-sifat ini. Wujudnya kedua-dua sifat ini adalah tanda hati seseorang sedang sakit, keras dan mati.
Jauhi Barah Ego - Ikut Cara Islam
Ego, antara sifat Iblis dan kerana sifat - Ana khairun minhu - itulah dia dilucutkan Allah menjadi sehina-hina makhluk di sisi-Nya. Sifat ego atau boleh dibahasakan sebagai takabbur ini pasti akan meresapi mana-mana individu apatah lagi jika menurut persepsinya dia mempunyai kelebihan berbanding dengan orang lain. Apabila sifat ini menguasai diri seseorang, maka ia akan menyebabkan wujudnya masalah khususnya di dalam tanzim (organisasi) itu. Oleh itu, mari kita semak adakah ada pada diri kita ciri-ciri penyakit tersebut.
(1). Bila jawapan yang diberi betul, dia akan rasa terhibur, senang hati dan bangga
Jawapan yang betul itu adalah menurut pengetahuannya sendiri apatah lagi jika dia ditanya oleh individu-individu yang berpangkat besar atau ilmunya tinggi lalu dia dapat memberikan jawapan dengan baik. Apa sahaja yang dipersoalkan akan cuba dijawabnya biarpun pada hakikatnya dia itu jahil akan pengertiannya yang sebenar. Tiada padannya istilah 'Ana tak tahu', 'nanti ana rujuk balik', 'Wallahu'alam' dan segala jawapan yang padanya seolah-olah boleh menjatuhkan martabat keilmuannya. Adalah merupakan suatu jenayah yang besar di sisi Islam apabila seseorang itu berlagak tahu walhal dia tidak tahu lalu menyebabkannya mengeluarkan pandangan dan fatwa-fatwa yang tidak sepatutnya sehingga menyebabkan orang ramai dan pihak yang meminta pandangannya terjerumus ke arah perkara yang batil.
(2). Jika tidak dilantik memegang sesuatu jawatan, dia akan rasa kecewa dan resah
Sikap gilakan jawatan antara sikap yang buruk. Nabi pernah bersabda yang mafhumnya,“Kami tidak memberi jawatan kepada sesiapa yang memintanya”. Seseorang yang memegang jawatan bermakna dia telah memegang amanah dan ini merupakan adalah suatu perkara yang amat dipandang berat di sisi Islam. Seseorang yang EGO pastinya akan merasa ‘panas’ jika namanya tidak naik menjadi pimpinan walhal sebelum ini dia telah banyak ditaklifkan dengan pelbagai jawatan yang lebih besar daripada itu. Dia akan menganggap seolah-olah kemampuannya tidak dihargai oleh mana-mana pihak sedangkan dia menganggap reputasinya lebih baik daripada orang lain.
(3). Jika dia seorang ketua, dia selalu bersikap kasar ketika memberi arahan kepada orang lain
Ketua seharusnya bersifat memimpin ahli yang berada dibawahnya. Ahli dibawah akan dipimpin dengan baik supaya matlamat sesebuah tanzim itu tidak tersasar dan segala gerak kerja dapatlah dilaksanakan dengan sempurna. Jika ahli bawahan ada melakukan kesalahan, maka seharusnya seorang ketua itu menegur dengan cara yang berhikmah sebaliknya sikap ini membawa kepada menzalimi orang lain dengan menggunakan kuasanya yang ada. Dia akan menggunakan kuasa di tangan sebagai peluang untuk menindas atau mendatangkan kesusahan kepada orang lain.
(4). Jika dia orang bawahan, dia susah untuk taat kepada ketuanya dan bersikap degil
Andainya roda pusingan kehidupan menjadikan gilirannya pula berada di bawah atau menjadi pengikut, ketika itu dia akan menjadi orang yang paling sukar untuk taat setia kepada pihak atasannya. Egonya itu membuatkan dia menjadi amat sukar untuk tunduk kepada peraturan dan perintah ketuanya. Sifat tersebut wujud apatah lagi jika sebelum ini merupakan seorang yang hebat kononnya tempatnya sebelum ini. Dia merasakan dia itu lebih ‘senior’ dalam segala aspek samada dari sudut umur, pengalaman, dan ilmunya berbanding dengan ketuanya yang muda daripadanya dalam aspek tadi.
Ulama yang beramal dalam medan harakah pernah menyebut, tiga golongan manusia yang payah untuk taat :-
Orang yang banyak umurnya (lebih senior) ;
Orang yang banyak pengalamannya ;
Orang yang banyak ilmunya (banyak ilmu tetapi tidak berakhlak).
Ketaatan hanya akan lahir daripada sifat thiqah sesama sendiri antara pimpinan dan ahli yang kedua-duanya memegang taklifan masing-masing dengan penuh ikhlas dalam semua keadaan walaupun dalam perkara yang tidak disukainya (selagi ia tidak bercanggah dengan syara’).
(5). Mudah marah bila dinasihati dan tidak mahu menerima dari orang atau pihak lain
Seolah-olah merasa rendah atau tercabar atau terhina andainya kebenaran itu keluar dari mulut orang lain. Lebih-lebih lagi sekiranya sesuatu yang benar itu datangnya daripada orang bawahannya atau orang yang dianggap status sosialnya lebih rendah. Teguran yang diberikan oleh pihak lain bukan sahaja tidak dapat diterima.
(6). Emosional dan mudah tersinggung
Tidak boleh ditegur atau tidak mahu menerima teguran. Teguran boleh menyebabkan dia sakit hati malah timbul dendam terhadap orang yang menegurnya. Islam adalah agama nasihat. Sesiapa sahaja pasti dia itu tidak terlepas dari serba kekurangan dan melakukan kesilapan. Demikianlah betapa pentingnya peranan wujudnya nasihat dan teguran daripada pihak lain kepada dirinya untuk kemaslahatan bersama. Seharusnya teguran itu diterima dengan hati yang ikhlas terbuka. Soal perkara itu benar atau tidak adalah perkara kedua. Ciri orang beriman itu sendiri adalah saling memberi peringatan dan teguran kepada orang lain tidak kiralah siapa atau apapun pangkatnya. Setiap peringatan itu memberikan manfaat yang besar kepada orang yang beriman dan jika ianya tidak dapat dijadikan manfaat sudah pastinya dia itu tidak tergolong dalam ciri orang yang beriman.
(7). Suka dipuji
Sangat suka dipuji malah sentiasa menunggu-nunggu sahaja akan pujian orang kepadanya (ketagih pujian). Apatah lagi jika dia itu dipuji di khayalak ramai dan sudah pastinya dia dirinya itu dipandang tinggi oleh pihak lain. Para Sahabat RA dahulu jika dia dipuji oleh seseorang, maka dia akan membaling capal, pasir atau batu kepada orang yang memujinya kerana bagi mereka ianya boleh menyebabkan amalan mereka ‘hangus’ dengan sifat riya’. Berlainan sekali dengan seseorang yang berikap EGO. Jika dia mendengar pujian terhadap orang lain di hadapannya maka timbul sakit hati kepada orang yang memuji itu dan sakit hati kepada orang yang dipujinya.
(8). Sangat suka berbahas (mencari musuh untuk melakukan perdebatan)
Dalam perbahasan pula sering meninggikan suara. Berbahas pula bukan hendak mencari kebenaran tetapi hendakkan kemenangan. Tujuannya untuk menunjukkan bahawa dia itu lebih hebat daripada pihak lain. Hujah pihak lain akan ditolak mentah-mentah dan baginya hujahnya sahajalah yang betul. Yang penting baginya sudah ada kepuasan dengan mewujudkan suasana ‘panas’ dalam perbahasan demi menunjukkan dia itu petah berbahas dan berhujah.
(9). Memilih kawan di kalangan orang bawahan dengan tujuan tertentu
Tujuan dipilih kawan di kalangan orang bawahan adalah supaya dia itu merasakan dirinya mempunyai kelebihan berbanding dengan yang lain. Isi perbualan atau percakapannya sering saja melebihkan diri biarpun dalam nada tutur kata yang lunak. Apatah lagi bila ada peluang bercakap besar dan lantang. Dengan tujuan demikian, dia menganggap bahawa tiada siapa yang dapat menandingi percakapannya dan pandangannya diterima oleh orang lain.
(10). Menonjolkan diri secara berlebihan
Isi perbualan atau percakapannya sering saja melebihkan diri biarpun dalam nada tutur kata yang lunak. Apatah lagi bila ada peluang bercakap besar dan lantang. Ini kerana dia berbangga dengan taklifan yang pernah disandangnya. Jika dia menjadi orang nombor dua (2) sekalipun, penampilannya akan melebihi ketuanya dan orang-orang yang lain. Sudah pastinya orang lain akan menganggap bahawa mereka memiliki individu yang cukup berpotensi untuk menggantikan jawatan ketuanya pada masa yang akan datang.
(11). Memperlekehkan orang lain
Sikap memperlekehkan orang lain juga tidak akan wujud pada diri individu yang meraakan dirinya memiliki kekurangan dan kelemahan namun perkara yang sebaliknya berlaku kepada mereka yang EGO. Setiap sifat kekurangan yang wujud pada orang lain akan diperlekehkan seolah-olah mahu menunjukkan bahawa dirinya itu lebih baik dan sempurna berbanding dengan lainnya. Orang yang merendah-rendahkan orang lain tergolongan dalam golongan yang fasiq dan seterusnya membawa kepada perbuatan zalim jika tidak bertaubat.
Allah mengecam golongan ini sepertimana di dalam firman-Nya yang bermaksud,“Wahai orang-orang yang beriman! janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengahnya yang lain; dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang melakukannya menjadi fasik, maka) amatlah buruknya sebutan nama fasiq (kepada seseorang) sesudah ia beriman. dan (ingatlah), sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiqnya) maka merekalah orang-orang yang zalim” (Surah Al Hujurat:11)
(12). Suka menyampuk perbualan orang lain
Ketika pihak lain memberikan pandangan, amat mudah bagi orang yang EGO itu untuk mencelah dan menyampuk mengikut kehendaknya dengan membelakangkan adab-adab dalam bermesyuarat. Tanpa rasa bertanggunggjawab dan rasa menghormati pandangan pihak lain, dia mudah untuk memintas mana-mana percakapan yang dia rasa tidak bersetuju dengannya seterusnya menyebabkan pandangannya itu mendominasi perbincangan tersebut dan timbul rasa kurang senang dari pihak lain.
(13). Berburuk sangka terhadap orang lain
Sikap buruk sangka merupakan dosa yang amat besar dan kerananya boleh membawa kepada tajasus (mencari-cari kesalahan) dan ghibah (umpatan). Hal ini Allah telah dijelaskan di dalam surah Al Hujurat akan bibit-bibit yang membawa kepada buruk sangka. Firman Allah bermaksud,"Wahai orang-orang yang beriman! jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadaNya. (oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani” (Surah Al Hujurat:12)
Demikianlah bahayanya berburuk sangka kepada orang lain. Perkara sedemikian tidak disedari oleh golongan yang EGO yang lebih suka berburuk sangka apatah lagi jika kepada seseorang itu tidak dapat memenuhi tuntutannya.
(14). Suka meninggikan suara ketika bercakap
“Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu menyaringkan suara (dengan lantang) semasa bercakap dengannya sebagaimana setengah kamu menyaringkan suaranya semasa bercakap dengan setengahnya yang lain. (larangan yang demikian) supaya amal-amal kamu tidak hapus pahalanya, sedang kamu tidak menyedarinya” (Surah Al Hujurat:2)
Al ‘ibrah bi’umumil lafdzi la bikhusus as sabab - menunjukkan bahawa sesuatu perintah itu adalah bersifat umum walaupun ia menunjukkan sebab yang khusus. Demikianlah juga dengan maksud firman Allah di atas. Larangan meninggikan suara bukanlah semata-mata dikhususkan kepada Rasulullah SAW tetapi ianya mengajar kita sebagai umatnya akan adab dan akhlak ketika berbicara dengan seseorang apatah lagi jika seseorang itu memiliki kedudukan.
Orang yang EGO akan apabila membicarakan sesuatu perkara, maka dia akan berusaha untuk meninggikan suaranya melebihi kadar yang sepatutnya dan dengan demikian seolah-olah tiada siapa yang berani mencabarnya. Nada percakapannya akan menjadi semakin tinggi apabila dia melihat pihak lain mendengar dengan khusyuk dan menghayati percakapannya
(1). Bila jawapan yang diberi betul, dia akan rasa terhibur, senang hati dan bangga
Jawapan yang betul itu adalah menurut pengetahuannya sendiri apatah lagi jika dia ditanya oleh individu-individu yang berpangkat besar atau ilmunya tinggi lalu dia dapat memberikan jawapan dengan baik. Apa sahaja yang dipersoalkan akan cuba dijawabnya biarpun pada hakikatnya dia itu jahil akan pengertiannya yang sebenar. Tiada padannya istilah 'Ana tak tahu', 'nanti ana rujuk balik', 'Wallahu'alam' dan segala jawapan yang padanya seolah-olah boleh menjatuhkan martabat keilmuannya. Adalah merupakan suatu jenayah yang besar di sisi Islam apabila seseorang itu berlagak tahu walhal dia tidak tahu lalu menyebabkannya mengeluarkan pandangan dan fatwa-fatwa yang tidak sepatutnya sehingga menyebabkan orang ramai dan pihak yang meminta pandangannya terjerumus ke arah perkara yang batil.
(2). Jika tidak dilantik memegang sesuatu jawatan, dia akan rasa kecewa dan resah
Sikap gilakan jawatan antara sikap yang buruk. Nabi pernah bersabda yang mafhumnya,“Kami tidak memberi jawatan kepada sesiapa yang memintanya”. Seseorang yang memegang jawatan bermakna dia telah memegang amanah dan ini merupakan adalah suatu perkara yang amat dipandang berat di sisi Islam. Seseorang yang EGO pastinya akan merasa ‘panas’ jika namanya tidak naik menjadi pimpinan walhal sebelum ini dia telah banyak ditaklifkan dengan pelbagai jawatan yang lebih besar daripada itu. Dia akan menganggap seolah-olah kemampuannya tidak dihargai oleh mana-mana pihak sedangkan dia menganggap reputasinya lebih baik daripada orang lain.
(3). Jika dia seorang ketua, dia selalu bersikap kasar ketika memberi arahan kepada orang lain
Ketua seharusnya bersifat memimpin ahli yang berada dibawahnya. Ahli dibawah akan dipimpin dengan baik supaya matlamat sesebuah tanzim itu tidak tersasar dan segala gerak kerja dapatlah dilaksanakan dengan sempurna. Jika ahli bawahan ada melakukan kesalahan, maka seharusnya seorang ketua itu menegur dengan cara yang berhikmah sebaliknya sikap ini membawa kepada menzalimi orang lain dengan menggunakan kuasanya yang ada. Dia akan menggunakan kuasa di tangan sebagai peluang untuk menindas atau mendatangkan kesusahan kepada orang lain.
(4). Jika dia orang bawahan, dia susah untuk taat kepada ketuanya dan bersikap degil
Andainya roda pusingan kehidupan menjadikan gilirannya pula berada di bawah atau menjadi pengikut, ketika itu dia akan menjadi orang yang paling sukar untuk taat setia kepada pihak atasannya. Egonya itu membuatkan dia menjadi amat sukar untuk tunduk kepada peraturan dan perintah ketuanya. Sifat tersebut wujud apatah lagi jika sebelum ini merupakan seorang yang hebat kononnya tempatnya sebelum ini. Dia merasakan dia itu lebih ‘senior’ dalam segala aspek samada dari sudut umur, pengalaman, dan ilmunya berbanding dengan ketuanya yang muda daripadanya dalam aspek tadi.
Ulama yang beramal dalam medan harakah pernah menyebut, tiga golongan manusia yang payah untuk taat :-
Orang yang banyak umurnya (lebih senior) ;
Orang yang banyak pengalamannya ;
Orang yang banyak ilmunya (banyak ilmu tetapi tidak berakhlak).
Ketaatan hanya akan lahir daripada sifat thiqah sesama sendiri antara pimpinan dan ahli yang kedua-duanya memegang taklifan masing-masing dengan penuh ikhlas dalam semua keadaan walaupun dalam perkara yang tidak disukainya (selagi ia tidak bercanggah dengan syara’).
(5). Mudah marah bila dinasihati dan tidak mahu menerima dari orang atau pihak lain
Seolah-olah merasa rendah atau tercabar atau terhina andainya kebenaran itu keluar dari mulut orang lain. Lebih-lebih lagi sekiranya sesuatu yang benar itu datangnya daripada orang bawahannya atau orang yang dianggap status sosialnya lebih rendah. Teguran yang diberikan oleh pihak lain bukan sahaja tidak dapat diterima.
(6). Emosional dan mudah tersinggung
Tidak boleh ditegur atau tidak mahu menerima teguran. Teguran boleh menyebabkan dia sakit hati malah timbul dendam terhadap orang yang menegurnya. Islam adalah agama nasihat. Sesiapa sahaja pasti dia itu tidak terlepas dari serba kekurangan dan melakukan kesilapan. Demikianlah betapa pentingnya peranan wujudnya nasihat dan teguran daripada pihak lain kepada dirinya untuk kemaslahatan bersama. Seharusnya teguran itu diterima dengan hati yang ikhlas terbuka. Soal perkara itu benar atau tidak adalah perkara kedua. Ciri orang beriman itu sendiri adalah saling memberi peringatan dan teguran kepada orang lain tidak kiralah siapa atau apapun pangkatnya. Setiap peringatan itu memberikan manfaat yang besar kepada orang yang beriman dan jika ianya tidak dapat dijadikan manfaat sudah pastinya dia itu tidak tergolong dalam ciri orang yang beriman.
(7). Suka dipuji
Sangat suka dipuji malah sentiasa menunggu-nunggu sahaja akan pujian orang kepadanya (ketagih pujian). Apatah lagi jika dia itu dipuji di khayalak ramai dan sudah pastinya dia dirinya itu dipandang tinggi oleh pihak lain. Para Sahabat RA dahulu jika dia dipuji oleh seseorang, maka dia akan membaling capal, pasir atau batu kepada orang yang memujinya kerana bagi mereka ianya boleh menyebabkan amalan mereka ‘hangus’ dengan sifat riya’. Berlainan sekali dengan seseorang yang berikap EGO. Jika dia mendengar pujian terhadap orang lain di hadapannya maka timbul sakit hati kepada orang yang memuji itu dan sakit hati kepada orang yang dipujinya.
(8). Sangat suka berbahas (mencari musuh untuk melakukan perdebatan)
Dalam perbahasan pula sering meninggikan suara. Berbahas pula bukan hendak mencari kebenaran tetapi hendakkan kemenangan. Tujuannya untuk menunjukkan bahawa dia itu lebih hebat daripada pihak lain. Hujah pihak lain akan ditolak mentah-mentah dan baginya hujahnya sahajalah yang betul. Yang penting baginya sudah ada kepuasan dengan mewujudkan suasana ‘panas’ dalam perbahasan demi menunjukkan dia itu petah berbahas dan berhujah.
(9). Memilih kawan di kalangan orang bawahan dengan tujuan tertentu
Tujuan dipilih kawan di kalangan orang bawahan adalah supaya dia itu merasakan dirinya mempunyai kelebihan berbanding dengan yang lain. Isi perbualan atau percakapannya sering saja melebihkan diri biarpun dalam nada tutur kata yang lunak. Apatah lagi bila ada peluang bercakap besar dan lantang. Dengan tujuan demikian, dia menganggap bahawa tiada siapa yang dapat menandingi percakapannya dan pandangannya diterima oleh orang lain.
(10). Menonjolkan diri secara berlebihan
Isi perbualan atau percakapannya sering saja melebihkan diri biarpun dalam nada tutur kata yang lunak. Apatah lagi bila ada peluang bercakap besar dan lantang. Ini kerana dia berbangga dengan taklifan yang pernah disandangnya. Jika dia menjadi orang nombor dua (2) sekalipun, penampilannya akan melebihi ketuanya dan orang-orang yang lain. Sudah pastinya orang lain akan menganggap bahawa mereka memiliki individu yang cukup berpotensi untuk menggantikan jawatan ketuanya pada masa yang akan datang.
(11). Memperlekehkan orang lain
Sikap memperlekehkan orang lain juga tidak akan wujud pada diri individu yang meraakan dirinya memiliki kekurangan dan kelemahan namun perkara yang sebaliknya berlaku kepada mereka yang EGO. Setiap sifat kekurangan yang wujud pada orang lain akan diperlekehkan seolah-olah mahu menunjukkan bahawa dirinya itu lebih baik dan sempurna berbanding dengan lainnya. Orang yang merendah-rendahkan orang lain tergolongan dalam golongan yang fasiq dan seterusnya membawa kepada perbuatan zalim jika tidak bertaubat.
Allah mengecam golongan ini sepertimana di dalam firman-Nya yang bermaksud,“Wahai orang-orang yang beriman! janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengahnya yang lain; dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang melakukannya menjadi fasik, maka) amatlah buruknya sebutan nama fasiq (kepada seseorang) sesudah ia beriman. dan (ingatlah), sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiqnya) maka merekalah orang-orang yang zalim” (Surah Al Hujurat:11)
(12). Suka menyampuk perbualan orang lain
Ketika pihak lain memberikan pandangan, amat mudah bagi orang yang EGO itu untuk mencelah dan menyampuk mengikut kehendaknya dengan membelakangkan adab-adab dalam bermesyuarat. Tanpa rasa bertanggunggjawab dan rasa menghormati pandangan pihak lain, dia mudah untuk memintas mana-mana percakapan yang dia rasa tidak bersetuju dengannya seterusnya menyebabkan pandangannya itu mendominasi perbincangan tersebut dan timbul rasa kurang senang dari pihak lain.
(13). Berburuk sangka terhadap orang lain
Sikap buruk sangka merupakan dosa yang amat besar dan kerananya boleh membawa kepada tajasus (mencari-cari kesalahan) dan ghibah (umpatan). Hal ini Allah telah dijelaskan di dalam surah Al Hujurat akan bibit-bibit yang membawa kepada buruk sangka. Firman Allah bermaksud,"Wahai orang-orang yang beriman! jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadaNya. (oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani” (Surah Al Hujurat:12)
Demikianlah bahayanya berburuk sangka kepada orang lain. Perkara sedemikian tidak disedari oleh golongan yang EGO yang lebih suka berburuk sangka apatah lagi jika kepada seseorang itu tidak dapat memenuhi tuntutannya.
(14). Suka meninggikan suara ketika bercakap
“Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu menyaringkan suara (dengan lantang) semasa bercakap dengannya sebagaimana setengah kamu menyaringkan suaranya semasa bercakap dengan setengahnya yang lain. (larangan yang demikian) supaya amal-amal kamu tidak hapus pahalanya, sedang kamu tidak menyedarinya” (Surah Al Hujurat:2)
Al ‘ibrah bi’umumil lafdzi la bikhusus as sabab - menunjukkan bahawa sesuatu perintah itu adalah bersifat umum walaupun ia menunjukkan sebab yang khusus. Demikianlah juga dengan maksud firman Allah di atas. Larangan meninggikan suara bukanlah semata-mata dikhususkan kepada Rasulullah SAW tetapi ianya mengajar kita sebagai umatnya akan adab dan akhlak ketika berbicara dengan seseorang apatah lagi jika seseorang itu memiliki kedudukan.
Orang yang EGO akan apabila membicarakan sesuatu perkara, maka dia akan berusaha untuk meninggikan suaranya melebihi kadar yang sepatutnya dan dengan demikian seolah-olah tiada siapa yang berani mencabarnya. Nada percakapannya akan menjadi semakin tinggi apabila dia melihat pihak lain mendengar dengan khusyuk dan menghayati percakapannya
Ego Dalam Pandangan Islam
Membiarkan ego tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan yang mengatur kehidupan tentu sangat membahayakan kehidupan beragama bahkan kehidupan masyarakat itu sendiri. Berbeda dengan mereka, dalam Hindu dan Budha, ego mesti ditekan dan kalau bisa dihilangkan. Namun dalam Islam, keberadaan ego tetap diakui, namun dijaga dan diatur sehingga tidak berkembang menjadi Illah bagi manusia. Seorang Muslim harus sadar dengan keberadaan dirinya di tengah realitas. Namun keberadaanya hanya ada karena Allah yang menciptakan dirinya. Di hadapan Allah, ia adalah makhluk hina yang senantiasa menyungkurkan muka ke tanah sebagai bukti kerendahan dan pengabdian. Ia adalah makhluk yang dibuat dari setetes air hina…bukanlah apa-apa, tidak ada yang dimilikinya selain kelemahan dan ketidakmampuan.
Manusia memang diciptakan lebih mulia dari makhluk lainnya sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, namun itu dimaksudkan untuk menolak alasan mempertuhankan makhluk lainnya. Sehingga dapat dibayangkan betapa jahilnya orang yang mepertuhankan batu, pohon, matahari, uang dan segala makhluk lainnya, karena sebenarnya manusia jauh lebih mulia dari itu semua. Di tengah sesamanya, semua manusia sederajat, tidak ada sedikitpun kelebihan satu sama lain kecuali karena ketakwaannya kepada Allah. Pemuliaan dan penghormatan diri dalam konteks ketakwaan adalah menjaga diri dari perbuatan hina yang merendahkan derajat kemanusiaanya. Ali bin Abi Thalib juga mengatakan, “Seorang yang memahami dan merasakan kemuliaan dirinya akan menilai syahwat tidak berharga di hadapannya”.
Bila manusia harus mempunyai alasan untuk setiap aktivitasnya, maka perbuatan dan tindakan untuk pemenuhan kebutuhan dirinya sendiri juga adalah fitrah bagi manusia. Dalam Islam, aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya dilakukan dalam kerangka ketaatan kepadaNya. Ia harus meyakini bahwa dirinya akan menghadapi Hari Pengadilan kelak. Manusia telah diberi panduan oleh Tuhannya untuk membedakan perbuatan mana yang harus, boleh, dan tidak boleh dilakukannya beserta konsekwensinya masing-masing. Dengan begitu, ia akan menyadari dan bertanggung jawab sepenuhnya atas segala tindakan yang dilakukannya.
Keberadaan ego dalam kehidupan seorang Muslim benar-benar harus diperhatikan dan diawasi. Seringkali seorang Muslim memenangkan pertempurannya dengan Syaithan yang membisiki perbuatan mungkar atau mempertuhankan makhluk lainnya. Namun ia kalah atas dirinya sendiri, sebagaimana yang dikatakan Rumi, berhala yang paling besar adalah berhala dirinya sendiri. Ego yang berkembang menjadi hijab yang menghalangi dia dengan Tuhannya akan menyebabkan seorang tidak akan mampu untuk memberikan pengabdian sepenuhnya apalagi tenggelam dalam kecintaan kepadaNya.
Ego yang berkembang tak terkendali akan menyebabkan berbagai penyakit hati. Bahkan boleh dikatakan bahwa ego adalah nenek moyang segala penyakit tersebut. Dari melihat dan menilai diri secara berlebihan, timbulah sifat ujub (membagakan diri) dan kibir (sombong). Merasa lebih dari yang lain; merasa lebih benar, lebih kaya, lebih pintar, lebih baik, lebih berkuasa dan segala kelebihan lainnya. Seorang yang membanggakan dirinya membuat ia menjadi sombong. Dan bila penyakit ini telah bercokol di hati, menerima nasihat orang lain akan dianggap sebagai merendahkan kredibilitasnya, dan untuk mengangkat dirinya ia harus merendahkan orang lain, sebagaimana sabda Rosulullah, “Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia..” (H.R. Muslim).
Dari usaha merendahkan orang lain, maka timbul sifat iri dan dengki. Untuk itu, maka seorang Muslim hendaknya tawadu dalam bergaul. Sifat tawadu merupakan obat penyakit hati tersebut. Namun harus diingat bahwa obat ini pun jangan sampai tercemar penyakit membahayakan ini. Syaikh Ahmad Atailah mengatakan bahwa tempat tawadu adalah hati, merasa diri tawadu merupakan sifat ujub apalagi bila dipamerkan di hadapan makhluk, maka timbulah penyakit komplikasi lain; riya[4].
Islam sebagai sebuah way of life tentu tidak lepas peranannya di dalam kelompok sosial. Kaum Muslimin sebagai sebuah masyarakat Islam juga harus menyadari dan mengekspresikan eksistensi mereka di tengah-tengah kaum lainnya. Pada masa Rosulullah, Nabi SAW dan para sahabatnya membedakan dirinya dari Ahlul Kitab dan Musyrikin dengan memberikan ciri-ciri yang khas seperti memelihara janggut dan mencukur kumis. Pembedaan ini mempunyai maksud sebagai syiar[5]. Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an bahwa umat Muslimin adalah umat yang terbaik, namun kemuliaan mereka adalah karena keimanan dan amar ma’ruf nahi munkar yang mereka lakukan[6], bukan semata-mata pemberian Tuhan dan menganggap umat lain sebagai budak seperti yang selama ini diyakini Yahudi. Islam mengajarkan umatnya untuk berlaku adil terhadap non Muslim. Islam adalah rahmatan lil aalamin, bukan rahmat yang diperuntukan bagi pengikutnya saja, melainkan rahmat bagi semesta alam. Bila ego adalah pembatasan bagi individu, keluarga atau kelompok sendiri, maka dalam Islam batas tersebut diperluas hingga bagi semesta alam.
Namun, Kemuliaan diri (izzah) harus tetap harus dimiliki kaum Muslimin. Allah berfirman, Kemuliaan hanyalah milik Allah, RasulNya dan orang beriman. Orang Mukmin harus selalu memperhatikan kemuliaaannya dengan selalu menjaga tetap berjalan di atas garis yang telah ditetapkan Allah dan RosulNya. Bahkan walau untuk itu ia harus merelakan hidupnya. Karena mati dengan terhormat lebih baik daripada hidup menjadi hamba orang lain.
Allah berfirman, Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Q.S. Ali Imran:130).
Wallahu a’lam
Manusia memang diciptakan lebih mulia dari makhluk lainnya sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, namun itu dimaksudkan untuk menolak alasan mempertuhankan makhluk lainnya. Sehingga dapat dibayangkan betapa jahilnya orang yang mepertuhankan batu, pohon, matahari, uang dan segala makhluk lainnya, karena sebenarnya manusia jauh lebih mulia dari itu semua. Di tengah sesamanya, semua manusia sederajat, tidak ada sedikitpun kelebihan satu sama lain kecuali karena ketakwaannya kepada Allah. Pemuliaan dan penghormatan diri dalam konteks ketakwaan adalah menjaga diri dari perbuatan hina yang merendahkan derajat kemanusiaanya. Ali bin Abi Thalib juga mengatakan, “Seorang yang memahami dan merasakan kemuliaan dirinya akan menilai syahwat tidak berharga di hadapannya”.
Bila manusia harus mempunyai alasan untuk setiap aktivitasnya, maka perbuatan dan tindakan untuk pemenuhan kebutuhan dirinya sendiri juga adalah fitrah bagi manusia. Dalam Islam, aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya dilakukan dalam kerangka ketaatan kepadaNya. Ia harus meyakini bahwa dirinya akan menghadapi Hari Pengadilan kelak. Manusia telah diberi panduan oleh Tuhannya untuk membedakan perbuatan mana yang harus, boleh, dan tidak boleh dilakukannya beserta konsekwensinya masing-masing. Dengan begitu, ia akan menyadari dan bertanggung jawab sepenuhnya atas segala tindakan yang dilakukannya.
Keberadaan ego dalam kehidupan seorang Muslim benar-benar harus diperhatikan dan diawasi. Seringkali seorang Muslim memenangkan pertempurannya dengan Syaithan yang membisiki perbuatan mungkar atau mempertuhankan makhluk lainnya. Namun ia kalah atas dirinya sendiri, sebagaimana yang dikatakan Rumi, berhala yang paling besar adalah berhala dirinya sendiri. Ego yang berkembang menjadi hijab yang menghalangi dia dengan Tuhannya akan menyebabkan seorang tidak akan mampu untuk memberikan pengabdian sepenuhnya apalagi tenggelam dalam kecintaan kepadaNya.
Ego yang berkembang tak terkendali akan menyebabkan berbagai penyakit hati. Bahkan boleh dikatakan bahwa ego adalah nenek moyang segala penyakit tersebut. Dari melihat dan menilai diri secara berlebihan, timbulah sifat ujub (membagakan diri) dan kibir (sombong). Merasa lebih dari yang lain; merasa lebih benar, lebih kaya, lebih pintar, lebih baik, lebih berkuasa dan segala kelebihan lainnya. Seorang yang membanggakan dirinya membuat ia menjadi sombong. Dan bila penyakit ini telah bercokol di hati, menerima nasihat orang lain akan dianggap sebagai merendahkan kredibilitasnya, dan untuk mengangkat dirinya ia harus merendahkan orang lain, sebagaimana sabda Rosulullah, “Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia..” (H.R. Muslim).
Dari usaha merendahkan orang lain, maka timbul sifat iri dan dengki. Untuk itu, maka seorang Muslim hendaknya tawadu dalam bergaul. Sifat tawadu merupakan obat penyakit hati tersebut. Namun harus diingat bahwa obat ini pun jangan sampai tercemar penyakit membahayakan ini. Syaikh Ahmad Atailah mengatakan bahwa tempat tawadu adalah hati, merasa diri tawadu merupakan sifat ujub apalagi bila dipamerkan di hadapan makhluk, maka timbulah penyakit komplikasi lain; riya[4].
Islam sebagai sebuah way of life tentu tidak lepas peranannya di dalam kelompok sosial. Kaum Muslimin sebagai sebuah masyarakat Islam juga harus menyadari dan mengekspresikan eksistensi mereka di tengah-tengah kaum lainnya. Pada masa Rosulullah, Nabi SAW dan para sahabatnya membedakan dirinya dari Ahlul Kitab dan Musyrikin dengan memberikan ciri-ciri yang khas seperti memelihara janggut dan mencukur kumis. Pembedaan ini mempunyai maksud sebagai syiar[5]. Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an bahwa umat Muslimin adalah umat yang terbaik, namun kemuliaan mereka adalah karena keimanan dan amar ma’ruf nahi munkar yang mereka lakukan[6], bukan semata-mata pemberian Tuhan dan menganggap umat lain sebagai budak seperti yang selama ini diyakini Yahudi. Islam mengajarkan umatnya untuk berlaku adil terhadap non Muslim. Islam adalah rahmatan lil aalamin, bukan rahmat yang diperuntukan bagi pengikutnya saja, melainkan rahmat bagi semesta alam. Bila ego adalah pembatasan bagi individu, keluarga atau kelompok sendiri, maka dalam Islam batas tersebut diperluas hingga bagi semesta alam.
Namun, Kemuliaan diri (izzah) harus tetap harus dimiliki kaum Muslimin. Allah berfirman, Kemuliaan hanyalah milik Allah, RasulNya dan orang beriman. Orang Mukmin harus selalu memperhatikan kemuliaaannya dengan selalu menjaga tetap berjalan di atas garis yang telah ditetapkan Allah dan RosulNya. Bahkan walau untuk itu ia harus merelakan hidupnya. Karena mati dengan terhormat lebih baik daripada hidup menjadi hamba orang lain.
Allah berfirman, Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Q.S. Ali Imran:130).
Wallahu a’lam
Bagaimana Caranya Melepaskan Ego Yang Menebal Dalam Diri?
Manusia memang pada dasarnya ego, suka mementingkan diri sendiri.
Ego merupakan suatu kejahatan dan dipandang sebagai kesalahan moral kerana ia selalu mengabaikan kepentingan orang lain.
Ego membuatkan manusia jauh dari kebenaran dan menyimpang dari petunjuk Tuhan. Ego dipandang sebagai penjara (belenggu) untuk manusia.
Ego ini menjadi persoalan serius ketika kebahagiaan dan kepentingan peribadi diterjemahkan sebagai kenikmatan.
Akibatnya, segala macam cara digunakan oleh orang yang ego ini untuk memperolehi kenikmatan untuk dirinya dan menghindari perkara yang tidak seronok, walaupun menyebabkan orang lain menderita.
Asal dirinya bahagia sahaja.
Itulah EGO..
Pernahkah anda merasakan kegelisahan hati dan jiwa?
Seperti tidak tahu apa yang harus dibuat, sedangkan kerja sebenarnya bertimbun dihadapan anda.
Pernahkah anda merasakan beban hidup yang terasa berat dan mencengkam jiwa anda, sedangkan anda merasakan tidak tahu bagaimana mengurangkannya?
Pernahkah anda merasakan tekanan dan kesempitan ekonomi yang menghalang setiap langkah kehidupan anda, tubuh anda terasa longlai, tidak tahu harus melangkah kemana?
Pernahkan anda merasakan kegelisahan hati yang mendalam, tubuh bergeletar dan semuanya menjadi serba tak kena?
Jika perkara ini menimpa anda, bererti anda dalam kegelapan cahaya hati kerana diliputi keegoan yang sangat tinggi.
Oleh itu, bagaimana cara mengawal ego kita?
Tanggalkan kesombongan hati dengan sikap rendah hati.
Tiada patut disombongkan oleh manusia dalam hidup ini.
Buangkan dengki dan gantikan dengan cinta dan kasih sayang. Hapuskan takabbur dan gantikan dengan kesedaran diri sebagai hamba dan abdi Tuhan semata.
Buanglah prasangka negatif dengan mengembangkan sikap positif dalam setiap langkah kaki ke depan. Hindari prinsip hidup yang salah dengan kembali dalam kejernihan jati diri dari hati.
Kalau anda menginginkan yang baik, buatlah diri anda jadi lebih baik.
Jika anda ingin meraih cita-cita,buatlah diri anda menjadi ideal.
Anda ingin mempunyai kawan yang lebih baik, maka jadikan diri anda sahabat yang lebih baik.
Jika anda ingin bekerjasama dengan orang yang mempunyai nilai, maka jadikan diri anda sendiri lebih bernilai.
Kalau anda ingin berurusan dengan orang yang kompromi, buatlah diri anda menjadi lebih kompromi.
Kalau anda ingin berada di dalam pelbagai keadaan yang lebih menyenangkan, buatlah diri anda sendiri menjadi lebih menyenangkan.
Jika anda ingin dicintai pasangan hidup kita, maka buatlah diri kita menjadi orang yang mencintainya lebih lagi.
Mungkin kita akan bertemu dengan orang-orang yang sukar difahami, namun tetaplah berikan yang terbaik, meskipun itu tidak akan pernah memuaskan hati semua orang.
Kejayaan dalam hidup tidak akan dapat diraih hanya dengan kekuatan fizikal dan kecerdasan akal fikiran.
Ia lebih daripada itu, iaitu kecerdasan hati dalam mengawal ego peribadi diri kita.
Dan dengan meninggalkan ego diri, percayalah kita akan menuju kehidupan yang lebih baik.
Jadi, marilah kita melepaskan keegoaan kita!
Ego merupakan suatu kejahatan dan dipandang sebagai kesalahan moral kerana ia selalu mengabaikan kepentingan orang lain.
Ego membuatkan manusia jauh dari kebenaran dan menyimpang dari petunjuk Tuhan. Ego dipandang sebagai penjara (belenggu) untuk manusia.
Ego ini menjadi persoalan serius ketika kebahagiaan dan kepentingan peribadi diterjemahkan sebagai kenikmatan.
Akibatnya, segala macam cara digunakan oleh orang yang ego ini untuk memperolehi kenikmatan untuk dirinya dan menghindari perkara yang tidak seronok, walaupun menyebabkan orang lain menderita.
Asal dirinya bahagia sahaja.
Itulah EGO..
Pernahkah anda merasakan kegelisahan hati dan jiwa?
Seperti tidak tahu apa yang harus dibuat, sedangkan kerja sebenarnya bertimbun dihadapan anda.
Pernahkah anda merasakan beban hidup yang terasa berat dan mencengkam jiwa anda, sedangkan anda merasakan tidak tahu bagaimana mengurangkannya?
Pernahkah anda merasakan tekanan dan kesempitan ekonomi yang menghalang setiap langkah kehidupan anda, tubuh anda terasa longlai, tidak tahu harus melangkah kemana?
Pernahkan anda merasakan kegelisahan hati yang mendalam, tubuh bergeletar dan semuanya menjadi serba tak kena?
Jika perkara ini menimpa anda, bererti anda dalam kegelapan cahaya hati kerana diliputi keegoan yang sangat tinggi.
Oleh itu, bagaimana cara mengawal ego kita?
Tanggalkan kesombongan hati dengan sikap rendah hati.
Tiada patut disombongkan oleh manusia dalam hidup ini.
Buangkan dengki dan gantikan dengan cinta dan kasih sayang. Hapuskan takabbur dan gantikan dengan kesedaran diri sebagai hamba dan abdi Tuhan semata.
Buanglah prasangka negatif dengan mengembangkan sikap positif dalam setiap langkah kaki ke depan. Hindari prinsip hidup yang salah dengan kembali dalam kejernihan jati diri dari hati.
Kalau anda menginginkan yang baik, buatlah diri anda jadi lebih baik.
Jika anda ingin meraih cita-cita,buatlah diri anda menjadi ideal.
Anda ingin mempunyai kawan yang lebih baik, maka jadikan diri anda sahabat yang lebih baik.
Jika anda ingin bekerjasama dengan orang yang mempunyai nilai, maka jadikan diri anda sendiri lebih bernilai.
Kalau anda ingin berurusan dengan orang yang kompromi, buatlah diri anda menjadi lebih kompromi.
Kalau anda ingin berada di dalam pelbagai keadaan yang lebih menyenangkan, buatlah diri anda sendiri menjadi lebih menyenangkan.
Jika anda ingin dicintai pasangan hidup kita, maka buatlah diri kita menjadi orang yang mencintainya lebih lagi.
Mungkin kita akan bertemu dengan orang-orang yang sukar difahami, namun tetaplah berikan yang terbaik, meskipun itu tidak akan pernah memuaskan hati semua orang.
Kejayaan dalam hidup tidak akan dapat diraih hanya dengan kekuatan fizikal dan kecerdasan akal fikiran.
Ia lebih daripada itu, iaitu kecerdasan hati dalam mengawal ego peribadi diri kita.
Dan dengan meninggalkan ego diri, percayalah kita akan menuju kehidupan yang lebih baik.
Jadi, marilah kita melepaskan keegoaan kita!
Subscribe to:
Posts (Atom)